236 Kepala Keluarga Terdampak Banjir di Parigi Moutong Sulteng Butuh Makanan Siap Saji
Warga Desa Kayuboko, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah beraktivitas disekitar murah mereka yang rusak diterjang banjir (Via ANTARA)

Bagikan:

PARIGI MOUTONG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah mengatakan, 236 kepala keluarga terdampak banjir di Parigi malam butuh logistik terutama makanan siap saji.
 
"Kebutuhan mendesak warga terdampak, saat ini logistik terutama makanan dan bahan pangan lainnya," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Parigi Moutong Amiruddin yang dihubungi dari Palu, Antara, Jumat, 20 Mei.
 
Banjir yang terjadi pada Kamis, 19 Mei malam sekitar Pukul 19.00 WITA merendam tiga desa di kabupaten. Diantaranya Dusun 1 dan 4 Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Dusun 2 dan 3 Desa Kayuboko serta Desa Air Panas, Kecamatan Parigi Barat.
 
Banjir disertai material lumpur dipicu hujan lebat mengguyur wilayah tersebut, sehingga mengakibatkan tanggul jebol, akibatnya air meluap hingga menggenangi pemukiman warga.
 
Aliran sungai Kayuboko dan Ari Panas bermuara di Desa Olaya, sehingga warga Dusun 4 desa tersebut ikut terdampak.
 
"Dari laporan kami terima dua rumah mengalami rusak ringan dan satu rumah lainnya rusak sedang" ujar Amiruddin.
 
Ia mengemukakan, sejak Kamis malam pihaknya bersama Taruna siaga bencana (Tagana) dan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat serta TNI/Polri turut membantu mengevakuasi warga ke tempat yang aman menggunakan kendaraan roda empat.
 
Dilaporkan, saat ini kurang lebih delapan alat berat sedang melakukan normalisasi sungai untuk membuat tanggul darurat, sebagai upaya mengantisipasi banjir susulan, sebab kondisi cuaca di daerah itu masih terpantau mendung.
 
"Tidak ada korban jiwa dari peristiwa ini. Pemkab Parigi Moutong bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga. Sejumlah warga mengungsi ke rumah kerabat karena rumah mereka rusak berat," ucap Amiruddin.
 

 
Ia menambahkan, hingga kini warga terdampak mulai membersihkan rumah mereka dari sisa-sisa material lumpur dan genangan air sudah surut.
 
"Kami juga telah mendirikan posko darurat di Desa Olaya, dan kami juga sedang berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk mendirikan dapur umum," demikian Amiruddin.