Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan vaksin COVID-19 untuk program vaksinasi sebagai upaya menekan angka kasus penularan COVID-19. Saat ini, pemerintah masih bergantung pada vaksin hasil kerja sama dengan sejumlah produsen di beberapa negara hingga 2021. Sementara 2022 Indonesia akan memproduksi vaksin sendiri.

Project Integration Manager R&D PT Biofarma (Persero) Neni Nurainy mengatakan, sebagai langkah awal perseroan akan melakukan penyediaan vaksin jangka pendek dengan tech transfer proses hilir (formulasi) menggunakan bulk vaksin COVID-19 dengan calon mitra yakni Sinovac asal China dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

Kolaborasi dengan Sinovac, kata Neni, saat ini sedang berlangsung uji klinis afse III yang dimulai sejak Agustus dan akan berakhir di Januari. Sementara untuk sampai selesai prosesnya di bulan September 2021. Namun, Indonesia bisa mengajukan emergency use authotization ke BPOM, sehingga di kuartal I 2021 sudah bisa produksi vaksin rutin di Bio Farma.

Neni mengatakan, Indonesia mendapat keuntungan dari kerja sama dengan Sinovac. Karena, akan adan transfer teknologi dari September 2020 sampai Januari 2021. Sehingga, Indonesia akan mengandalkan produksi vaksin dalam negeri, yakni vaksin Merah Putih pada 2022.

"Dalam jangka panjang kita ingin melakukan kemandirian vaksin. Kita melakukan kerja sama konsorsium vaksin Merah Putih bekerjasama dengan Eijkman, Badan Litbangkes, dibantu dengan Menristek dan Kemenkes," tuturnya, dalam acara Ngopi BUMN Kontribusi BUMN Farmasi Mengatasi Pandemi COVID-19, Kamis, 15 Oktober.

Vaksin Merah Putih ini merupakan kerja sama dari triple helix yang meliputi pemerintah, akademisi, dan swasta, yaitu PT Biofarma (Persero), Lembaga Eijkman, Balitbangkes Kementerian Kesehatan, BPOM, serta Kementerian Riset dan Teknologi.

Targetnya, Eijkman akan merampungkan benih (seed) vaksin Merah Putih pada awal 2021. Seed vaksin Merah Putih bakal dikembangkan melalui tahapanan uji klinis oleh Biofarma. Setelah rangkaian itu, harapannya vaksin Merah Putih bisa mendapatkan ijin BPOM, sehingga bisa digunakan pada 2022 mendatang.

"Jangka menengah atau panjang jelas kami ingin melakukan kemandirian vaksin, oleh karena itu pengembangan vaksin harus melalui hulu, karenanya kami melakukan konsorsium kerja sama vaksin COVID-19 nasional atau vaksin Merah Putih," jelasnya.

Saat ini, kata Neni, terdapat empat komitmen pembelian vaksin yang dikantongi Indonesia dari sejumlah negara. Pertama, Sinovac menyanggupi 3 juta dosis vaksin hingga akhir Desember 2020.

Sinovac akan mengirim 1,5 juta dosis vaksin pada minggu pertama November dan 1,5 juta dosis pada pertama pertama Desember 2020, ditambah 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk. Tahun depan, Sinovac menyanggupi 125 juta dosis vaksin

Kedua, Sinopharm menyanggupi 15 juta dosis vaksin tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5 juta dosis mulai datang pada November 2020. Tahun depan, Sinopharm menyanggupi pengiriman 50 juta dosis.

Ketiga, Cansino menyanggupi 100 ribu dosis vaksin pada November 2020, dan sekitar 15 juta-20 juta untuk 2021. Keempat, AstraZeneca sebanyak 100 juta dosis vaksin tahun depan.