Joe Biden Tolak Debat Lanjutan Mengingat Tak Jelasnya Kondisi Kesehatan Trump
Joe Biden (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Joe Biden menolak debat capres lanjutan. Pertimbangannya adalah kondisi Donald Trump yang terkonfirmasi COVID-19 beberapa hari lalu. Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat hanya akan berpartisipasi kembali dalam debat berdasar rekomendasi para ahli medis.

"Ya, saya pikir jika dia masih menderita COVID-19, kita tidak boleh berdebat," kata Biden kepada wartawan di Maryland. "Saya pikir kita harus mengikuti pedoman yang sangat ketat. Terlalu banyak orang yang telah terinfeksi dan ini masalah yang sangat serius."

"Saya berharap bisa mendebatnya. Tapi saya hanya berharap semua protokol diikuti, apa yang diperlukan saat itu," Biden.

Trump mengatakan berencana tampil dalam debat yang akan datang, meski terdiagnosa COVID-19. Hal tersebut menyebabkan penyelenggara debat mempertimbangkan sejumlah kemungkinan tentang bagaimana menjadi tuan rumah dua debat presiden dengan aman. Salah satu pilihan yang mungkin adalah mengadakan debat virtual.

"Komisi, termasuk saya, tentu terbuka untuk operasi virtual debat, tanpa pertanyaan," kata seorang anggota komisi, yang meminta namanya tidak disebutkan karena tidak memiliki porsi secara terbuka untuk pembahasan debat yang akan datang.

Melansir CNN, Rabu, 7 Oktober, pertarungan Trump dengan virus tersebut telah membawa ketidakpastian baru ke dalam persaingan menuju kursi capres. Padahal jadwal pemilihan hanya kurang dari satu bulan. Hal itu juga menimbulkan pertanyaan tentang kesehatan Trump ketika para pemilih memberi suara di beberapa negara bagian.

Trump meninggalkan Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed pada Senin, 5 Oktober setelah menerima perawatan COVID-19. Dalam beberapa hari terakhir, Trump adalah salah satu orang dari sisi pemerintahan yang tertular virus ketika dirinya dalam masa kampanye. Sebelumnya, pembantu kepresidenan, Hope Hicks dan sekretaris pers Gedung Putih Kayleigh McEnany juga positif COVID-19. 

BACA JUGA:


- https://voi.id/berita/15918/praktik-pasung-orang-gangguan-jiwa-di-60-negara-dirantai-di-pohon-hingga-dikunci-di-kandang-hewan

- https://voi.id/berita/15947/kembali-bangkit-dari-covid-19-harga-kamar-hotel-di-makkah-diskon-besar-besaran

- https://voi.id/berita/15943/gadis-14-tahun-diperkosa-beramai-ramai-lalu-diserang-pria-yang-menawarinya-tumpangan-pulang

Trump sendiri dinyatakan positif COVID-19 pada Kamis, 1 Oktober. Namun, tidak jelas kapan dia tertular virus karena para pejabat, termasuk dokter kepresidenan, Dr. Sean Conley berulang kali menolak mengungkapkan kapan Trump terakhir kali dinyatakan negatif COVID-19.

Conley bersikeras bahwa Trump cukup sehat untuk kembali ke rumah. Meskipun dia mencatat bahwa Presiden "mungkin belum sepenuhnya terbebas dari bahaya."

Biden, sementara itu, menyalahkan Trump karena tertular COVID-19. Ia mengatakan bahwa Trump yang secara konsisten menolak mengenakan masker dan melakukan jaga jarak sosial adalah penyebabnya.

"Siapa pun yang tertular virus pada dasarnya mengatakan, 'masker tidak perlu, jaga jarak sosial tidak perlu', saya pikir bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada mereka," kata Biden tentang Trump. 

Sementara itu calon wakil presiden (Cawapres) dari Partai Republik Mike Pence dan cawapres dari Partai Republik Kamala Harris akan berhadapan dalam satu-satunya yang diselenggarakan pada Rabu 7 Oktober malam atau Kamis 8 Oktober pagi WIB. Pence, yang telah dekat dengan sejumlah orang yang tertular COVID-19, memiliki hasil negatif beberapa kali terhadap virus tersebut.