Aktivis Hong Kong Diadili karena Gelar Peringatan Peristiwa Tiananmen
Memorial peristiwa Tiananmen (Sumber: Commons Wikimedia}

Bagikan:

JAKARTA - Aktivis prodemokrasi Hong Kong muncul di pengadilan untuk mendengarkan tuduhan dalam berpartisipasi pertemuan ilegal pada 4 Juni. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk memperingati penindasan terhadap pengunjuk rasa di dan sekitar Lapangan Tiananmen Beijing pada 1989.

Melansir Reuters, Rabu, 16 September, pertemuan tersebut untuk pertama kalinya dilarang di Hong Kong. Pihak kepolisian mengutip pembatasan kegiatan untuk menekan penyebaran COVID-19 sebagai alasan untuk tidak diberikannya izin untuk pertemuan tersebut.

Namun, puluhan ribu orang menyalakan lilin di seluruh kota dalam acara yang sebagian besar merupakan peristiwa damai. Meski demikian terdapat bentrokan singkat dengan polisi anti huru hara di satu lingkungan.

"Kami bersikeras bahwa mengutuk pembantaian Tiananmen bukanlah kejahatan," kata Lee Cheuk-yan, yang menyelenggarakan acara tahunan di Hong Kong dan termasuk di antara mereka yang menghadapi dakwaan, sebelum memasuki pengadilan. 

Ke-26 aktivis yang menghadapi dakwaan, termasuk Joshua Wong; taipan media, Jimmy Lai, dan Nathan Law, yang meninggalkan Hong Kong setelah China memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional. Ia meninggalkan Hong Kong sejak Juni.

Aktivis lain, Sunny Cheung, yang berencana mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif Hong Kong yang ditunda, juga absen dalam persidangan tersebut. Cheung telah menjadi subyek spekulasi bahwa dia mungkin juga telah melarikan diri dari Hong Kong. Jaksa penuntut mengatakan dia belum berada di Hong Kong sejak 14 Agustus, menurut otoritas imigrasi.

Peringatan 4 Juni menghantam saraf yang sangat sensitif di Hong Kong. Peringatan 4 Juni jatuh tepat ketika China bersiap untuk memperkenalkan Undang-Undang Keamanan Nasional, yang menghukum apa pun yang dilihat China sebagai subversi, pemisahan diri, terorisme, atau kolusi dengan pasukan asing. Hukumannya pun bisa kurungan penjara seumur hidup.

Aktivis pro-demokrasi melihat undang-undang tersebut sebagai upaya terbaru China untuk melanggar kebebasan Hong Kong. Sementarapro-Pemerintah China mengatakan undang-undang tersebut akan membawa stabilitas setelah Hong Kong mengalami kerusuhan selama setahun.

Peringatan 4 Juni dilarang di China daratan, tetapi Hong Kong secara tradisional mengadakan acara terbesar secara global setiap tahun. Hal tersebut dikarenakan Hong Kong dijanjikan kebebasan tertentu ketika kembali ke pemerintahan China pada 1997, termasuk hak berekspresi dan berkumpul.

China tidak pernah memberikan laporan lengkap tentang kekerasan pada 1989 di Tiananmen. Bahkan saking tabunya peristiwa Tiananmen, pencarian internet untuk istilah apa pun yang terkait dengan Tiananmen, bahkan tanggal kejadian, diblokir oleh aparat sensor China. 

"Pemerintah China telah melakukan pekerjaan menyeluruh menghapus Empat Juni dari ingatan historis sebagian besar anak muda di China. Tetapi generasi tua di China yang hidup pada waktu itu, dan dunia di luar China, belum melupakan peristiwa ini," kata Andrew Nathan, seorang profesor ilmu politik di Universitas Columbia.

Laporan korban tewas yang diberikan oleh para pejabat sekitar 300, kebanyakan dari mereka tentara. Tetapi kelompok hak asasi manusia dan para saksi mengatakan ribuan orang tewas akibat peristiwa tersebut.

 

foto: Memorial Peristiwa Tiananmen