Serangan Wabah Menyebalkan Bernama "Prank!" di YouTube Kita

Serangan Wabah Menyebalkan Bernama <i>"Prank!"</i> di YouTube Kita

Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

Selamat datang di Tulisan Seri. Dalam sepekan ke depan, kami ajak Anda mendalami tren pembuatan konten prank di media sosoal. Tren yang harusnya menyenangkan, di dalam negeri malah dilakukan dengan cara menyebalkan. Ini dia, "Prank! Prang! Prong!"

Lewat Prank! kita lihat bagaimana fenomena berlangsung. Lewat Prang! kita dalami meledaknya konten-konten semacam ini. Dan lewat Prong! kita cari tahu dampak merugikan yang mungkin muncul dari tren gila ini.

 

Ketiklah kata kunci "prank" di kolom pencarian YouTube. Anda akan menyadari adanya wabah menyebalkan yang sedang menyerang platform streaming video yang kita cintai. Kami melakukan pantauan pada Selasa sore, 10 Desember dan langsung menemukan bahwa YouTuber Indonesia mendominasi konten jenis ini. Mudah saja. Dari 19 konten yang muncul di halaman pertama, ada 12 konten yang diunggah oleh pemilik kanal YouTube asal Indonesia.

Angga Candra jadi kanal YouTuber Indonesia yang teratas. Videonya yang berjudul SENYUM MANJA!! CEWE CUBY INI KESEM SEM & BAPER SENDIRI, PRANK CEWE BENGKULU itu laku keras dengan jumlah views 3,1 juta. Dalam video berdurasi 13 menit 40 detik itu, Angga Candra menggoda perempuan dengan nyanyian. Konten lain yang banyak ditonton adalah video berjudul SENJATA MAKAN TUAN !! NYAI DIBIKIN KETAKUTAN SAMA PRANK NYA SENDIRI!! unggahan kanal Crazy Nikmir REAL.

Video yang baru diunggah 15 jam lalu itu telah ditonton 1,4 juta kali. Demam prank belum selesai, nampaknya. Yang paling sampah barangkali adalah konten unggahan kanal The Santoso. Video yang diberi judul PRANK ISTRI MAU WIKWIK JOS, M4LAH DIK4SIH BENERAN. 4UTO SENS*R itu telah ditonton 2,5 juta kali sejak diunggah satu bulan lalu. Maaf, kami tak dapat menjelaskan isi video yang jelas tak akan kami tonton.

Konten semacam ini sejatinya bukan barang baru di kalangan pembuat konten YouTube Indonesia. Atta Halilintar barangkali jadi nama yang paling bertanggung jawab soal menjamurnya tren ini. Sepuluh bulan lalu, video prank-nya viral. Dalam video itu, Atta berpura-pura menjadi gembel dan masuk ke sebuah restoran. Orang-orang menunjukkan reaksi yang tentu saja bisa ditebak. Beberapa merasa terganggu. Segelintir lain takut. Ujungnya, penyamaran Atta terungkap oleh salah satu petugas resto.

Cuplik video prank Atta Halilintar (YouTube/Atta Halilintar)

 

Umur panjang

Umur konten prank nyatanya cukup panjang. Dimulai oleh Atta di awal tahun. Kemudian, diikuti oleh deretan YouTuber lain macam Baim Wong hingga Raffi Ahmad yang meniru metode yang sama: menggembel. Masuk pertengahan tahun, konten prank berkembang ke arah yang mulai menyebalkan. Ketika kanal YouTube JOE RENY Vlog membuat deretan prank dengan tema "wik wik wik". Celaka, sebab tema itu diikuti oleh banyak pengguna YouTube lain.

Yang paling baru adalah konten bertema "prank ojol". Dalam prank ini, kebanyakan YouTuber akan memesan makanan lewat aplikasi ojek online (ojol). Nantinya, pesanan itu akan dibatalkan atau mereka akan menghilang, membiarkan para sopir ojol kebingungan. Seperti prank "wik wik wik", konten prank ojol juga diikuti dengan sikap latah para pembuat konten YouTube lain.

Kanal Eggy jr Vames adalah salah satu yang sebaran konten prank ojolnya paling pecah di YouTube. Video berjudul Order Makanan 1 juta Lebih Gw Cancel!!! Bapak Driver Gojeknya Nangis Histeris Istri Mau Lahiran yang ia unggah telah ditonton lebih dari 50 ribu kali dan mendapat likes sebanyak 379. Namun, video itu juga diganjar oleh 240 ribuan dislikes, tentu saja.

Konten bertema prank ojol pun menyebar. Salah satu yang membuntuti langkah ini adalah Nino Kuya, anak laki-laki dari entertainer televisi, Uya Kuya. Video berjudul Gembel order KFC 700 ribu, bayarnya 5 juta. Curhat Abang Ojol Bayinya meninggal!! itu juga cukup laku ditonton. Tercatat, 1,3 juta views didapat kanal Nino Kuya yang memiliki jumlah subscribers 1,6 juta. Tak tampak komentar dalam video tersebut karena pengelola akun menonaktifkan fitur komentar dalam video.

Pola

Berbagai pola dapat kita lihat dari berbagai konten prank ojol yang seliweran. Mulanya, para YouTuber akan memasang kamera di sejumlah tempat. Kemudian, mereka mulai memesan makanan, biasanya dengan nominal fantastis melalui aplikasi Grab atau Gojek.

Setelah driver ojol datang ke alamat pemesan, di sinilah drama dimulai. Para pembuat konten membantah kalau mereka memesan makanan dan tidak mau membayar. Tak lupa, ditambahkan suara latar ala sinetron dan reality show televisi untuk menambah rasa emosional.

Pada bagian ini, kesedihan para sopir ojol dipertontonkan, dieksploitasi habis-habisan. Selanjutnya, para YouTuber akan kembali menghampiri sopir dan mengklarifikasi bahwa yang bersangkutan tengah di-prank. Dan segala hal yang ia alami adalah untuk kepentingan pembuatan konten semata. Ujungnya, semua pesanan dibayarkan.

Pola lain yang dapat kita lihat dari prank ojol adalah pola klarifikasi. Anda akan sepakat dengan kami, tentang bagaimana prank dilempar, kemudian di-bully, lalu para pembuat konten akan muncul dengan video klarifikasi dan menyebut konten tersebut dibuat dengan tujuan mulia.

Keuntungan

Peneliti media dari Remotivi, Roy Thaniago menjelaskan bagaimana uang ada di balik segala konten prank yang dibuat. Tujuan-tujuan mulia, bagi Roy adalah omong kosong. Dan perilaku saling tiru yang dilakukan ekosistem YouTuber Indonesia sejatinya menegaskan itu.

Jadi, ada dua indikator yang dapat digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan sebuah kanal YouTube: CPM (Cost Per Mile) dan CPC (Cost Per Click). Dua indikator itu baru bekerja dengan dua syarat. Pertama, adalah pertumbuhan jumlah subscriber minimal seribu dalam waktu satu tahun.

Kedua, konten video kanal tersebut harus ditonton minimal selama empat ribu jam oleh semua viewers dalam kurun waktu yang sama. CPM adalah uang yang didapatkan sebuah kanal dari setiap seribu penayangan iklan di seluruh video.

Merujuk data situs moneysmart.id, Mei 2019, nilai CPM di Indonesia saat ini adalah Rp7 ribu per seribu tayangan iklan. Sementara, CPC adalah nominal yang didapat sebuah kanal dari setiap klik iklan yang tayang di dalam konten video. Nominal CPC berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp12 ribu.

"Rewarding diukur dari ketertontonanya. Jadi, orang akan bikin yang paling heboh, paling menyedot perhatian. Dia akan melakukan apa saja untuk bikin konten yang mendatangkan viewer banyak," kata Roy saat dihubungi VOI, Senin, 9 Desember.

Dengan mental cuan yang tertanam dalam di banyak kepala YouTuber lokal saat ini, plus segala catatan yang kami paparkan di atas, tak heran akhirnya para YouTuber saling tiru. Sikap saling tiru ini yang menurut Roy juga amat merugikan para pengguna YouTube.

Lagi-lagi, penyakit bernama kejenuhan yang akan muncul sebagai dampak dari fenomena menyebalkan ini. Penyakit yang amat identik dengan pola publikasi yang dilakukan televisi. Ujung-ujungnya, seperti televisi, proses edukasi terhadap tontonan yang dikorbankan. Seperti dalam banyak kasus, penonton akan kesulitan mengidentifikasi mana tontonan berkualitas dan tidak.

Barangkali, penonton YouTube memang perlu memahami persoalan ini. Sebab, selain rewarding system YouTube, fenomena ini tumbuh subur berkat para penonton juga. "Menurut saya, sistem rewarding ini dan cara kita me-reward konten-konten tersebut yang bermasalah," kata Roy.

Ikuti Seri Tulisan edisi ini: Prank! Prang! Prong!