Virus Corona Tak Kebal di Iklim Cuaca yang Bersuhu Panas

Virus Corona Tak Kebal di Iklim Cuaca yang Bersuhu Panas

Ilustrasi dokter yang meneliti virus corona di RSPI Sulianti Saroso (Irvan Meidianto/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Para peneliti dan ilmuwan terus berjibaku untuk membuat vaksin dari virus corona (SARS-CoV-2) atau penyakit COVID-19. Dalam sebuah studi terbaru memenunjukkan bila penyebaran virus ini melambat di iklim cuaca yang bersuhu lebih hangat. 

Melansir laman Live Science, para ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology meyakini bila infeksi virus penyakit ini terjadi di daerah yang bersuhu antara 37,4 sampai 62,2 derajat Fahrenheit (atau sekitar 3 hingga 17 derajat Celcius), dengan kelembapan berkisar 4-9 gram per meter kubik (9/m3). 

Mengingat sebaran negara-negara yang terinfeksi virus ini bersuhu rata-rata di atas 64,4 F (18 C) dengan kelembapan absolutnya lebih dari 9 g/m3. Kendati masih hipotesis awal namun jumlah kasus COVID-19 di iklim cuaca yang lebih hangat justru kurang dari 6 persen yang tercatat secara kasus global. 

Hal ini tentu memberikan harapan, bagaimana penularan COVID-19 ini akan kurang efektif pada situasi iklim yang lebih hangat. Penelitian ini juga perlu diantisipasi warga dunia saat musim panas terjadi untuk tetap menjaga jarak sosial atau social distancing antara satu dan lainnya.  

Di sisi lain, menurut hasil penelitian para ilmuwan di wilayah Amerika Utara dan Eropa menunjukkan, efek kelembapan pada penyebaran COVID-19 diyakini akan berkurang pada bulan Juni mendatang. Hal ini bisa terjadi ketika suhu udara mulai menghangat memasuki musim panas. 

"Mungkin ada implikasinya secara terbatas untuk negara-negara Eropa dan sebagian wilayah Amerika Utara yang tidak akan mengalami kenaikan suhu hingga Juli mendatang. Hal ini mungkin menjadi waktu yang sangat singkat untuk mengurangi terjadinya penyebaran COVID-19," ungkap seorang spesialis penyakit menular di Vanderbilt University di Tennessee, Dr. William Schaffner.

Menurutnya penyebaran beberapa virus pernapasan, seperti flu akan berkurang dalam kelembapan tinggi serta iklim suhu yang menghangat. Namun tidak secara rinci apakah virus ini akan bermutasi jadi virus flu musiman seperti lainnya. 

Tampilan virus corona(SARS-Cov-2) penyebab COVID-19 (NIAID-RML)

"Jika kita melihat virus ini dari mikroskop, kita bisa menemukan bahwa ada bola-bola mikroskopis yang akan sangat berpengaruh pada kelembapan di suhu tertentu. Jika virus semacam ini bisa sewaktu-waktu akan menguap ketika seorang pasien menarik napas," paparnya kepada Live Science.

Meski begitu dirinya tetap mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati dan menjaga kesehatan diri baik selama di dalam maupun luar rumah. Sekali pun cuaca sedang sangat cerah. 

"Bisa jadi penularan virus ini akan menurun cukup rendah selama musim panas mendatang, karena suhu yang lebih hangat," imbuhnya.