Bersiap dengan Terobosan Out of The Box Staf Khusus Milenial Jokowi

Bersiap dengan Terobosan <i>Out of The Box</i> Staf Khusus Milenial Jokowi

Foto Presiden Joko Widodo bersama ketujuh staf khusus mudanya (dok. Setkab)

Bagikan:

JAKARTA - Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dini Suryani menyebut pemilihan anak muda sebagai staf khusus (Stafsus) presiden, adalah jawaban janji kampanye Joko Widodo (Jokowi). Jokowi memang kerap menyinggung keterlibatan anak muda dalam pemerintahannya. 

Ketujuh stafsus yang diperkenalkan Jokowi; Putri Indahsari Tanjung, Adamas Belva Syah Devara, Andi Taufan Garuda, Gracia Billy Mambrasar, Ayu Kartika Dewi, Angkie Yudistia, dan Aminuddin Maruf, rata-rata masih berusia 30 tahun. Mereka punya tugas yang terbilang out of the box, memberi terobosan dan inovasi dalam mengelola negara. 

"Apakah keberadaan mereka ada dampaknya bagi kebijakan yang dibuat oleh presiden atau ternyata cuma 'sekedar' ada di situ, tetapi kebijakan presiden yang diterapkan berasal dari orang yang itu-itu lagi," kata Dini saat dihubungi VOI lewat pesan singkat, Jumat, 22 November.

Selain ide baru, anak muda dan milenial yang duduk sebagai staf khusus harus punya ide out of the box. Dini mencontohkan, anak-anak muda ini harus bisa memiliki terobosan seperti eks Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti.

"Kita bisa lihat dari pengalaman kemarin di mana Ibu Susi Pudjiastuti tidak lagi menjabat dalam kabinet, meski kinerja beliau sangat bagus dan penuh terobosan baru," ungkapnya.

Majunya anak muda sebagai staf khusus juga dianggap jadi tantangan tersendiri. Sebab, biasanya anak muda juga punya banyak terobosan baru dan sering out of the box yang kerap menabrak kepentingan politik.

"Di sini pertaruhannya. Apakah stafsus yang kira-akan akan penuh ide out of the box ini akan diakomodasi dalam bentuk kebijakan, atau hanya sekedar pemanis?" ujarnya.

Meski masih skeptis dengan masuknya anak-anak muda dan milenial ini di lingkungan Istana Kepresidenan, upaya Presiden Jokowi untuk mengakomodasi suara pemuda dalam kabinet perlu diapresiasi. Apalagi, mereka yang ditunjuk punya perhatian lebih terkait beragam isu serius di negeri ini seperti isu pemberdayaan ekonomi, isu disabilitas dan isu Papua.

Soal keterpilihan anak muda dan milenial sebagai pemenuhan janji kampanye juga disebut oleh pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin. Kata dia, Jokowi sedang berusaha menepati janjinya terhadap kaum muda dan milenial.

Tak ada yang salah memang, sebab menurut Ujang, Jokowi sudah seharusnya merekrut anak muda sebagai staf khususnya untuk mengikuti perkembangan zaman."Karena ini adalah era milenial, jadi staf khusus pun harus milenial," kata dia.

Namun Ujang mengingatkan mereka bisa saja masih miskin pengalaman di bidang pemerintahan karena masih cukup muda. "Jadi harus belajar banyak," tegasnya.

Kata Partai Anak Muda

Sebagai partai anak muda, Juru Bicara PSI, Dedek Prayudi mengatakan terpilihnya staf khusus menteri dari kalangan anak muda dan milenial adalah kabar yang menggembirakan bagi partainya. Uki, biasa dia dipanggil, menyebut Jokowi berkomitmen memperhatikan isu-isu besar yang ada di tengah anak muda.

Dia juga menanggapi terpilihnya kader PSI sebagai salah satu menteri yaitu Dini Shanti Purwono. Katanya, Uki tak kaget saat mengetahui Dini dipilih Jokowi untuk menjadi staf ahli. "Happy tapi tidak heran," kata Uki.

Pengangkatan Dini dirasa tepat mengingat kapasitasnya sebagai orang yang punya perhatian lebih pada isu hukum. "Saya tahu kapasitas Sis Dini. Memang sangat pantas," tutupnya.

Seperti diketahui, ketujuh staf khusus ini memiliki bidang masing-masing, dari sektor kreatif, pendidikan, hingga teknologi keuangan. Ada pula pemuda asal Papua hingga penyandang disabilitas. 

Selain itu, ada dua staf ahli lainnya dari kalangan politikus yakni PSI Dini Shanti Purwono dan politikus PDI Perjuangan Arief Budimanta. Namun, keduanya tak ikut diperkenalkan saat itu karena tak masuk dalam usia generasi milenial.

Berikut profil ketujuh staf khusus milenial Jokowi:

1. Adamas Belva Syah Devara (Belva) adalah anak muda pendiri Ruang Guru. Pria ini lahir di Jakarta, 30 Mei 1990, itu artinya usianya baru 29 tahun saat ini. 

Latar belakang pendidikan Belva, tidak main-main dirinya menempuh double degree untuk studi bisnis dan ilmu komputer di Nanyang University, Singapura. Belva kemudian melanjutkan pendidikannya di Stanford University, California, AS, pada 2013-2015. 

Dia menyabet gelar MBA (Master of Business Administration). Sekalian, dia juga menyabet gelar MPA (Master of Public Administration) dari Harvard University pada 2014-2016. Dia juga terdaftar (cross-registered) di Department of Urban Studies and Planning, Massachusetts Institute of Technology, pada 2015. 

Pada Juli 2014, dia dan Muhammad Iman Usman mendirikan perusahaan rintisan bernama Ruang Guru. Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi aplikasi belajar terkemuka di Indonesia. Perusahaan rintisannya itu juga mendapat sederet penghargaan, dari dalam dan luar negeri.

 

2. Putri Indahsari Tanjung lahir pada 22 September 1996. Kini dia berumur 23 tahun. Dia adalah putri sulung pengusaha nasional Chairul Tanjung.

Putri merupakan CEO Creativepreneur Event Creator, perusahaan penyelenggara acara (event organizer) yang didirikannya pada Desember 2011. Dilansir dari situsnya, Creativepreneur Event Creator bertujuan menyelenggarakan acara yang menghibur sekaligus menginspirasi anak muda.

Dilihat dari profil LinkedIn-nya, Putri dulu bersekolah di Anglo-Chinese Jakarta (2006-2011). Dia melanjutkan pendidikannya ke Australian International School Singapore (2012-2014). Gelar sarjana dia raih dari Academy of Art University, jurusan Multimedia Communication, San Fransisco, AS (2015-2019).

 

3. Andi Taufan Garuda Putra, pria kelahiran 24 Januari 1987 ini dikenal lewat lembaga keuangan mikro yang dirintisnya bernama, Amartha. Andi merupakan alumnus Manajemen Bisnis ITB pada 2008. 

Dirinya juga sempat bekerja di perusahaan multinasional, IBM. Dua tahun Andi bekerja, ia memutuskan untuk resign dan mendirikan Amartha yang berfokus pada lembaga keuangan modern untuk membantu golongan masyarakat menengah ke bawah dalam mendapatkan bantuan dana. 

Andi juga melanjutkan pendidikan tingginya ke Harvard Kennedy School (2015-2016). Dari kampus di Amerika Serikat itu, dia meraih gelar Master of Public Administration.

 

4. Ayu Kartika Dewi, perempuan kelahiran Banjarmasin ini merupakan pendiri dari Gerakan SabangMerauke. Ayu pernah terlibat dalam program Indonesia Mengajar, yang diprakarsai Anies Baswedan saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 

Ayu merupakan angkatan pertama dari program Indonesia Mengajar dan ditugaskan mengajar di SD di Maluku Utara. Pada 2013, Ayu kemudian mendirikan SabangMerauke, sebuah program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia untuk menanamkan nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan.

Menelisik latar belakang pendidikannya, Ayu pernah mendapatkan beasiswa Fulbright untuk melanjutkan kuliah di Duke University, Amerika Serikat. Usai menyabet gelar MBA dari Duke University. Ayu juga pernah bekerja sebagai Staf Gubernur DKI Jakarta saat Basuki Tjahja Purnama menjabat di 2015.

 

5. Gracia Billy Mambrasar, pemuda 30 tahun asal Serui, Kepulauan Yapen, Papuan ini merupakan duta pembangunan berkelanjutan Indonesia. Wirausahawan sosial ini, ternyata ikut dalam audisi konten bernyanyi, Indonesian Idol 2006.

Dilansir Antara, Gracia Billy Yosaphat Y Mambrasar berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya adalah guru honorer bergaji tak tentu. Ibunya berjualan kue di pasar. Namun pendidikan Billy terbantu karena sejak SMA dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua.

Billy melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Lulus kuliah, dia sempat bekerja di perusahaan minyak milik Inggris, hingga akhirnya mengundurkan diri dan mendirikan yayasan Kitong Bisa untuk membantu pendidikan anak-anak Papua yang kurang mampu.

Billy juga menyabet gelar Master of Business Administration (MBA) dari The Australian National University (2013-2014). Dia juga menyabet gelar Master of Science (MSc) dengan tesis keberlanjutan sosial dalam proyek LNG.

 

6. Angkie Yudistia, merupakan anak muda difable yang merupakan CEO Thisable Enterprise. Fokusnya adalah misi sosial, membantu kaum difabel.

Angkie adalah lulusan jurusan periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta. Dia meraih gelar master bidang komunikasi pemasaran dari perguruan tinggi yang sama.

Meski menyandang disabilitas, Angkie pernah menjadi duta Indonesia pada acara Asia-Pacific Development Center of Disability, 2010. Dia juga menulis buku berjudul 'Invaluable Experience to Pursue Dream' (Perempuan Tunarungu Menembus Batas).

 

7. Aminuddin Ma'ruf, pemuda kelahiran 27 Juli 1986 ini merupakan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016. Aminuddin merupakan alumnus dari Universitas Negeri Jakarta, ia juga sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Trisakti, Jakarta. 

Usai tidak menjadi Ketum PB PMII, Aminuddin Ma'ruf pernah menjadi  Sekretaris Jenderal Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi), dan relawan pendukung Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019.