Kala Kota Batavia Kekurangan Sentuhan Wanita

Kala Kota Batavia Kekurangan Sentuhan Wanita

Keluarga campuran Indo-Belanda (Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Pada tahun 1618, pendiri Kota Batavia Jan Pieterszoon Coen menyurati Heren XVII, seorang Dewan Direksi Vereemigde Oostindische Compagnie (VOC). Coen yang juga Gubernur Jenderal Batavia tak pakai basa-basi. Ia menulis: Semua orang tahu bahwa laki-laki tidak akan bertahan tanpa perempuan. Untuk mengatasi masalah ini, kami telah mengeluarkan banyak uang membeli perempuan dengan harga yang tinggi.

Kondisi itu muncul saat ia sudah resmi mendapatkan daerah koloni di Batavia. Kekesalannya saat itu muncul karena Dewan Direksi VOC yang berada di Belanda tampak enggan mengirimkan wanitanya ke Asia. Buat mereka, wanita yang diperbolehkan pergi hanya seorang istri mau pun anak-anak dari para pegawai dengan pangkat tinggi.

Akibatnya, Batavia jadi daerah yang banyak dihuni lelaki Eropa berkulit putih, tetapi memiliki sedikit wanita yang berkulit putih. Seperti kata Coen, kebanyakan dari mereka bersiasat dengan cara mengawini para budak untuk dijadikan nyai. Lalu, lahirlah keturunan Indo-Belanda.

Jelas Coen tak terlalu suka kondisi seperti itu. Ia justru menghendaki perempuan-perempuan dari Belanda sebagai pendamping pegawai VOC dibanding negeri yang lain. Sehingga ia berucap, “Supaya orang-orang kompeni bisa mendapatkan pasangan yang pantas untuk tinggal di koloni, maka kirimkanlah kami perempuan-perempuan muda.”

Dalam salah satu suratnya, Coen mempertegas bahwa perempuan adalah prasyarat penting dalam berdagang. Sampai-sampai ia menganggap jika perempuan Eropa telah tersedia, maka pasar-pasar perdagangan diseluruh wilayah Nusantara menjadi milik pemerintah kolonial.

Dikutip dari Achmad Sunjayadi dalam bukunya yang berjudul (Bukan) Tabu di Nusantara, ia menjelaskan bahwa saat itu Coen tak hanya meminta anak-anak gadis, tapi juga mengusulkan agar banyak keluarga Belanda dari kalangan baik-baik untuk bermigrasi ke Batavia. “Bersama para keluarga itu, ia berharap disertakan pula sekitar 400 hingga 500 anak laki-laki dan perempuan yang diambil dari rumah yatim piatu di Belanda.”

Keluarga campuran Indo-Belanda (Commons Wikimedia)

“Perbandingan jumlah anak laki-laki dan perempuan yang diusulkan adalah 2:1. Khusus anak-anak gadis, mereka akan tinggal dengan keluarga-keluarga atau di sekolah-sekolah khusus yang dibiayai kompeni. Di sana mereka dirawat, dididik, dan diajar sampai mereka akil baliq, cukup umur untuk dikawinkan dengan calon suami keturunan keluarga-keluarga terhormat,” ungkap Achmad Sunjayadi.

Hal itu karena gagasan Coen yang menginginkan seluruh sifat baik keluarga Belanda dan kaum perempuannya --khususnya kesopanan, kebersihan, dan kesolehan-- dapat tertanam pada keturunan mereka di koloni. Tujuan lainnya ialah untuk mengganti para istri keturunan Asia atau Indo yang sudah ada sebelumnya.

Pengabulan

Keinginan Coen pun bersambut. Tahun 1620, para direksi VOC di Belanda memutuskan untuk mengabulkan keinginan mendatangkan wanita dari Belanda. Jean Gelman Taylor dalam bukunya berjudul Kehidupan Sosial di Batavia mengungkap, “Tahun itu juga mereka menyampaikan berita yang sangat mengembirakan kepada Coen bahwa tiga keluarga dan beberapa gadis akan berlayar ke Batavia dengan Kapal Mauritius.”

Jean menambahkan, gadis-gadis yang dikirim turut mendapatkan satu setel pakaian dari VOC dan nantinya akan menjadi kebiasaan untuk memberikan setiap perempuan mas kawin sebelum mereka menikah. Meski begitu, mereka para wanita tak mendapatkan gaji, tetapi menandatangani kontrak sebagai pegawai VOC dengan mengikat mereka untuk tinggal selama lima tahun di Batavia.

Di samping itu, pemerintah kolonial turut menyediakan tempat tinggal yang pantas dan bantuan lainnya untuk para keluarga pionir ini. Sayangnya, yang dikirimkan malah gadis yatim piatu atau anak dari keluarga yang sangat miskin.

Kinder Garten Kolonie (Commons Wikimedia)

“Tidak mungkin gadis dari keluarga kaya akan diizinkan untuk pergi ke Indonesia. Meskipun mereka dapat bertahan dari perjalanan laut dan dari berbagai penyakit di Batavia, hidup tetaplah penuh bahaya bagi mereka para gadis muda tanpa ikatan,” ungkap Jean Gelman Taylor.

Adanya surat-surat dari pegawai senior VOC pun mempertegas yang Jean ungkap. Kondisi itu membawa beberapa fakta, bahwa gadis-gadis yatim piatu itu kebanyakan terjerumus ke dalam pelacuran dan banyak pula diantara mereka yang kehilangan hak untuk dipulangkan.

Sebuah problema

Langkah Coen pun terhitung gagal. Alasannya, para gadis-gadis berlatar belakang keluarga terpandang seperti yang diharapkan tak kunjung dikirim. Alasan lainnya, dikarenakan perkawinan sepasang manusia yang keduanya berasal dari Belanda di Batavia tak membuahkan keturunan yang kuat. Itu karena angka keguguran dan kematian anak yang cukup tinggi.

Bahkan, langkah Coen dikritik oleh pegawai VOC lainnya, Hendrik Bouwer. Ia menganggap Coen terlalu liberal karena obsesi butanya akan perkembangan Batavia, orang-orang Belanda yang bekerja untuk mencari uang, akan lebih memilih kembali ke negaranya daripada tinggal di Indonesia.

“Bahwa hal ini disebabkan oleh perempuan Belanda yang datang kemari dalam keadaan miskin, dan setelah kaya, tak bisa berhenti mengeluh sampai dirinya dikirim kembali ke Belanda dan hadir di tengah orang-orang yang ia kenal sebagai orang kaya,” tutur Hendrik Bouwer.

Hendrik Bouwer menambahkan, rata-rata rumah tangga yang baik di Batavia itu didasari oleh para pegawai VOC yang menikahi perempuan pribumi. “Anak-anak mereka lebih sehat, perempuan-perempuan di sini tidak banyak menuntut, dan para prajurit kita lebih baik menikah dengan mereka.”

Senada dengan Hendrik Bouwer, Heren XVII kemudian memilih berbeda dengan Coen. Dewan Direksi VOC tersebut berpendapat, justru jika lelaki Belanda mengawini perempuan pribumi, maka akan lahir anak-anak yang kuat, tegap dan panjang umur. Maka, secara tak langsung Heren XVII merestui perkawinan campur dengan alasan akan menghasilkan anak-anak dengan fisik kuat yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis khas nusantara.

Namun, hal itu tak diindahkan oleh pegawai VOC di Batavia. Alasannya, pernikahan Belanda dan Indonesia masih amat tabu kala itu. Karenanya, muncul kemudian banyak praktik pergundikan. Sampai-sampai, jurnalis senior, Alwi Shahab, dalam tulisannya berjudul Batavia Kekurangan Wanita mengatakan, kondisi itu sejak abad 17, mengakibatkan rumah bordir banyak berdiri disekitarakan Batavia.

“Tempatnya sekitar Pelabuhan Sunda Kalapa atau di sekitar Menara Syahbandara. Juga di Mangga Besar, Jakarta Barat, terdapat tempat pelacuran yang sama,” tutup Alwi Shahab.

Tag: sejarah