Membaca (Kembali) 70 Tulisan Kolom Karya Ong Hok Ham

Membaca (Kembali) 70 Tulisan Kolom Karya Ong Hok Ham

Onghokham (1933--2007). Sejarawan flamboyan yang doyan makan ("Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan")

Bagikan:

JAKARTA - Selain bagian opini, membaca tulisan kolom merupakan salah satu jenis tulisan yang digemari orang banyak saat membaca media cetak atau pun media online. Ketertarikan itu biasanya muncul karena tulisan sering kali ditulis oleh seseorang dengan aspek pengamatan menarik terhadap suatu permasalah yang sedang 'happening'. Atau bisa juga mengangkat problema masa lalu yang ada di dalam masyarakat.

Alasan lainnya, terletak dari siapa yang menjadi penulisnya. Sehingga, gagasan dapat tertuang secara apik dalam ragam problema mulai dari pendidikan, sejarah, politik, gaya hidup dan lainnya. Agar masalah yang diulas terasa segar, ringan, memikat, sekali pun tema tulisan termasuk dalam kategori serius.

Seiring waktu, tak peduli nama besar, nama kecil, atau pun seseorang yang belum dikenal sekali pun dalam  menulis kolom. Hal yang pasti, penting untuk memercayai kurasi yang dilakukan oleh media nasional dalam memilih penulis kolom, karena beberapa di antaranya sering kali mampu memikat hati para pembaca dengan gaya khas masing-masing. Salah satu pada zamannya adalah Ong Hok Ham – seorang sejarawan.

Bukan tanpa alasan nama Ong muncul sebagai salah satu yang terbaik, soalnya Ong tak hanya jago perihal membahas sejarah, terlebih karena kemampuan beliau menguliti perihal mitos-mitos yang ada di bumi Nusantara, beliau lah jagonya.

Setidaknya, itu yang dapat ditangkap kala membaca 70 kolom dia di Koran Tempo sejak tahun 1976-2003, dan sudah terangkum dalam buku berjudul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang.

Membaca seluruh kolomnya, dari lembar 1 hingga lembar ke 380 sungguh menarik. Banyak fakta yang bersumber dari masa lalu, rasanya patut dijadikan acuan sekaligus relevan bagi masa kini. Untuk itu, Meski terdapat total 70 kolom, hanya 10 kolom dengan label paling menarik yang akan kita ulas.

Mulai dari Wangsit (2002), Raja-Raja Jawa dan Islam (1977), Tentang Takhta dan Suksesi (1987), Renungan Mengenai Kelas Berkuasa (1982), Pungli dalam Sejarah Kita (1978), Gaji (dan korupsi) Sepanjang masa (1983), Terbentuknya Kapitalisme di kalangan Peranakan Tionghoa di Jawa (1978), Citra Minoritas Pedagang Sebagai Setan (1984), Bromocorah dalam Sejarah Kita (1983), dan Gelandangan dari masa ke masa (1982). Berikut penelusurannya.

Wangsit. Dalam kolom ini Ong dengan semangat membedah perkara kekuasaan dan kekayaan yang sering kali dihubungkan dengan hal-hal gaib dan bernuansa mistis.

Misal, tentang dongeng mengenai harta karun emas atau intan berlian yang terpendam milik kerajaan di masa lalu, yang selalu dianggap Ong sebagai langkah tak mungkin dengan menggaungkan kalimat, “Kalau ada yang menemukan, maka jumlahnya mampu melunasi utang luar negeri Indonesia.”

Padahal, jika diamati dari zaman dulu hingga sekarang, sistem perpajakan raja tak pernah sempurna. Kalau pun benar, pasti Sri Mulyani - Menteri Keuangan - sekarang tak perlu pusing-pusing lagi mikirin pemasukan negara, ya?

Raja-Raja Jawa dan Islam. Ketertarikan utama kolom ini terletak pada bagaimana seorang raja menggiring rakyat, bahwa mereka harus tunduk dengan dasar raja, sering perannya disamakan dengan nabi – seorang utusan tuhan- karena berdasarkan ideologi negara, raja pada zaman dahulu dianggap terilhami langsung oleh tuhan.

Tentang Takhta dan Suksesi. Pokok bahasan suksesi atau yang dikenal dengan pergantian raja pada zaman dulu tak luput dikupas habis oleh Ong. Ia menganggap, pergantian raja tak sepenuhnya - dalam pelaksanaan - memuat unsur pasti dan jelas. Karena seringkali terlihat, calon raja baru menjadi garang sehingga membunuh seluruh pesaingnya, entah adik atau paman sendiri.

Renungan Mengenai Kelas Berkuasa. Kolom ini bercerita tentang  bagaimana kekayaan dapat menjamin kedudukan politik dan militer. Tanpa itu kiranya, sukar bagi mereka yang menyebut diri mereka berkuasa dan membuat perubahan atau pun melebarkan sayap kekuasaannya.

Pungli dalam Sejarah Kita. Mendengar kata pungli - pungutan liar - tentu semua orang yang hidup di Indonesia sangat akrab dengan istilah ini. Bahkan, tak jarang menyaksikan langsung hingga menjadi pelaku dari pungli sendiri. Nah, di kolom ini, Ong, mengupas tentang akar sejarah dari pungli dan keganjilan akan kampanye anti-pungli yang digelorakan hingga kini.

Gaji (dan Korupsi) Sepanjang Masa. Akar tulisan ini ialah bagaimana sejarah masalah gaji dan korupsi di negeri ini, yang berawal dari zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga sering kali membuat rakyat sengsara. Betapa tidak, jika kongsi dagang Belanda itu tak bisa menggaji dan mengawasi kepala desa (pejabat), rakyat lah yang harus menanggung biayanya.

Terbentuknya Kapitalisme di kalangan Peranakan Tionghoa di Jawa. Kolom ini berfokus pada mitos-mitos orang Tionghoa dapat kaya raya hingga tujuh turunan karena bersikap hemat dan bekerja keras, itu kerangka berpikir yang menjadi fokus dari kolom yang lahir pada tahun 1978 ini.

Padahal, kalau memang ada karier yang demikian maka kalangan petani yang sedari dulu bekerja keras lah yang layak menjadi jutawan. Namun, sayang itu tidak terjadi.

Citra Minoritas Pedagang sebagai Setan. Khusus tema ini, ia mengungkap masyarakat kita sering mengait-ngaitkan bagaimana kala melihat ada orang lain sukses cepat, maka stigma negatif yang muncul ialah karena kebanyakan menjual jiwanya pada setan. Padahal, tidak seperti itu juga.

Bromocorah dalam Sejarah Kita. Bercerita tentang sejarah para jago – jawara yang biasanya dipakai guna kepentingan pemerintah - pada zaman dulu. Mulai dari peranan mereka, bahkan dahulu mereka sampai memiliki jumlah besar, sampai-sampai polisi maupun pangreh praja kalah jumlah.

Meski begitu, di samping citra buruk yang diberikan kepada para jago, namun kala para jago berpihak kepada yang menang, label pahlawan langsung disematkan di belakang nama mereka, dan hal ini telah menjadi bukti bahwa hubungan politik dan kekerasan sudah mendarah daging sejak dahulu pada bangsa kita.

Gelandangan dari Masa Ke Masa. Kolom ini ialah salah satu yang terbaik dari tulisan Ong. Kenapa? Karena di sini ia menguluti sejarah dari gelandangan mulai dari zaman sebelum merdeka, perkembangan gelandangan di dunia Barat, peran gelandangan di masa Perang Jawa (1741 – 1743) hingga zaman pendudukan Jepang.

Itulah ke-10 kolom yang menarik. Semoga buku ini dapat menjadi alternatif referensi Anda sekalian dalam mengisi waktu luang, sembari menikmati sajian gagasan yang berasal dari masa lalu khas Ong Hok Ham, seraya mangamini pendapat dari seorang negarawan Rusia, Krouchtjev, yang sempat berujar, “Sejarawan adalah profesi yang ditakuti penguasa karena mereka bisa membongkar masa lalu dengan penjelasan yang tak terbantah.”

Buku Wahyu yang Hilang, Negeri yang Diguncang (Detha Arya Tifada/VOI)

Detail:

Judul Buku: Wahyu yang Hilang, Negeri yang diguncang

Penulis: Ong Hok Ham

Terbit pertama kali: 2003

Penerbit: KPG

Jumlah Halaman: 380

 

Tag: Nusantara