JAKARTA - Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan Tehran bersikeras pada pengayaan uranium, tapi di sisi lain juga mempertahankan dekret agama dari pemimpin tertinggi negara itu yang menyatakan senjata nuklir dilarang.
"Dengan fatwa ini, sistem tersebut tidak dapat menghasilkan bom," kata Menlu Fidan yang pernah duduk di Dewan Badan Energi Atom Internasional dalam wawancara dengan CNN Turki, dikutip dari Anadolu (10/2).
"Tetapi mereka mengembangkan kemampuan yang mendekati persenjataan, yang mengakibatkan sanksi dan perlakuan seolah-olah mereka telah menghasilkan bom," tandasnya.
Lebih jauh Menlu Fidan menekankan, Iran belum mengambil langkah-langkah untuk mempersenjatai uranium yang diperkaya dan tidak memiliki senjata nuklir.
"Iran tidak memiliki bom atom. Tidak ada juga data yang menunjukkan mereka ingin membangunnya," katanya, seraya mencatat meskipun ada asumsi tentang seberapa cepat Iran dapat melakukannya jika memilih demikian, asumsi tersebut tetap bersifat teoritis dan terus direvisi.
Menlu Fidan menggarisbawahi bahwa pengayaan saja tidak cukup.
"Di satu sisi, Anda perlu memperkaya uranium. Di sisi lain, Anda perlu mengembangkan hulu ledak, dan kemudian Anda perlu menggabungkannya," urainya.
"Sekarang, Iran belum mengambil satu langkah pun dalam hal ini, menuju persenjataan," tambahnya.
Menlu Fidan mengatakan masih ada pertanyaan mengenai alasan Iran untuk terus melakukan pengayaan tingkat tinggi, meskipun menyatakan tidak memiliki niat untuk membangun senjata nuklir.
"Jika tidak ada niat seperti itu, beberapa orang berpendapat tidak perlu pengayaan dalam skala ini atau sanksi berat seperti itu," katanya.
اقرأ أيضا:
Ditanya tentang posisi Turki mengenai potensi Iran memperoleh senjata nuklir, Menlu Fidan mengatakan Ankara tidak ingin melihat perubahan dramatis dalam keseimbangan kekuatan regional.
"Perkembangan seperti itu akan sangat merusak semangat kerja sama di kawasan ini," jelasnya, memperingatkan hal itu dapat memicu perlombaan senjata nuklir yang lebih luas dan pada akhirnya memaksa Turki dan negara lain untuk membalas dengan cara yang sama.
"Saya rasa ini tidak akan menguntungkan kawasan ini," tambahnya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)