Jeans Lahir Ketika Manusia Membutuhkan Celana Berbahan Kuat

JAKARTA - Celana jeans adalah tren fesyen abadi. Abadi karena perkembangannya telah melewati banyak abad. Tahukah Anda sejarah panjang di balik celana jeans yang jadi ikon fesyen paling populer?

Diciptakan pada akhir 1800-an, Amerika Serikat (AS) memperkenalkan jeans ke dunia selama Perang Dunia II. Meski sudah berumur sangat lama, jeans benar-benar tetap menjadi bisnis yang booming hingga hari ini.

Melansir Vogue, Rabu, 8 Juli, jeans adalah celana yang terbuat dari denim atau kain dungaree. Konsep jeans ditemukan oleh Jacob Davis dan Levi Strauss pada 1873. Nama 'jeans' berasal dari Kota Genoa di Italia, tempat kapas korduroi yang disebut jean atau jeane, diproduksi.

Levi Strauss datang dari Jerman ke New York pada 1851 untuk bergabung dengan kakak lelakinya yang memiliki toko barang. Pada 1853, Levi Strauss mendengar tentang adanya gold rush sehingga pindah ke San Francisco untuk mendirikan cabang dari bisnis barang-barang keluarga.

Di sana, ia menjual beberapa barang yang salah satunya adalah kain katun. Salah satu pelanggannya adalah Jacob W. Davis, seorang penjahit dari Reno, Nevada. Davis membuat barang-barang fungsional seperti tenda, selimut kuda, dan selimut kereta.

Menciptakan celana kokoh

Suatu hari, pelanggan Jacob Daviss memesan celana panjang yang kokoh dan bisa tahan saat berkegiatan aktif. Dia lalu membuat celana berbahan denim yang dia beli dari Levi Strauss dan membuat celana yang lebih kuat dengan menempatkan paku tembaga di tempat-tempat yang paling rentan robek.

Ketika dia ingin mematenkan celana berbahan denim, dia mengatakannya kepada Levi Strauss dan mereka pun menjadi mitra. Mereka membuka pabrik yang lebih besar. Begitulah jeans lahir.

Setelah beberapa dekade, desain celana jeans semakin berkembang. Strauss menambahkan lengkungan ganda jahitan oranye agar celana jeans lebih kuat. Selain itu, gubahan itu dilakukan sebagai cara mengidentifikasi jeans sebagai merek Levi's.

Lalu, desain jeans mulai ditambah aksesori lain, seperti sabuk yang muncul pada 1922. Resleting lalu digunakan untuk menambah gaya dan efisiensi penggunaan pada 1954. Tetapi, ketika paten Strauss dan Davis berakhir pada 1890, pabrikan lain bebas mereproduksi gaya tersebut.

OshKosh B’Gosh memasuki pasar jeans pada 1895. Setelahnya, Blue Bell --cikal bakal Wrangler-- di tahun 1904, dan Lee Mercantile pada 1911. Namun, seiring berjalannya waktu, penggunaan jeans bukan lagi sekadar mode. Jeans menyimbolkan suatu keadaan.

Pada 1950-an, jeans dikaitkan dengan kaum muda pemberontak dan anti-kemapanan. Marlon Brando dan James Dean memopulerkan citra idola remaja berpakaian denim dengan daya tarik seks yang besar. Bintang rock ’n roll membuat jeans menjadi gaya yang dingin. Lalu, hippie dan pemrotes anti-perang ikut mengenakan jeans pada 1960-an.

Kemudian, di awal 1970-an, pemakaian jeans sebagai cara untuk menunjukkan dukungan bagi kelas pekerja. Sementara para feminis memiliki jeans biru sebagai cara untuk menunjukkan kesetaraan gender.