Cara Garuda Indonesia Selamatkan Diri dari Kehancuran: Turunkan Biaya Sewa Pesawat 11 Juta Dolar AS per Bulan

JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengklaim telah berhasil melakukan penghematan biaya sewa pesawat sebesar 11 juta dolar AS per bulan. Biaya tersebut bisa ditekan setelah maskapai pelat merah ini berhasil melakukan negosiasi dengan beberapa lessor pesawat.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra berujar dalam kondisi normal sebelum pandemi COVID-19, jumlah beban sewa pesawat mencapai 76 juta dolar AS. Namun, biaya ini bisa sudah berhasil ditekan.

Dengan capaian itu, lanjut Irfan, diharapkan biaya operasional dapat terus ditekan untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah minimnya okupansi imbas pandemi COVID-19.

"Dulu satu bulan kami membayar 76 juta dolar AS untuk sewa pesawat. Sekarang sudah turun jadi bebannya sekitar 55 juta dolar AS per bulan untuk sewa pesawat," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin, 21 Juni..

Irfan menjelaskan upaya penghematan arus keuangan bakal terus dilakukan perseroan hingga kondisi bisnis penerbangan kembali kondusif. Selain adanya mengurangi biaya sewa, rute-rute penerbangan yang tidak mendapatkan keuntungan pun akan ditutup.

Lebih lanjut, Irfan mengatakan, alhasil pengurangan karyawan pun terpaksa harus diambil guna menyelamatkan Garuda Indonesia dari ancaman kebangkrutan. Pengurangan itu dilakukan melalui program pensiun dini yang menyasar setidaknya 1.099 karyawan dengan masa kerja lebih dari 30 tahun.

"Jadi ada penawaran-penawaran lain yang akan didiskusikan lagi dengan teman-teman lainnya. Yang jelas kami tidak punya keinginan sama sekali menzalimi karyawan dan kedua kami tahu persis hari ini bukan waktu yang tepat untuk meminta orang keluar," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Dony Oskaria menjelaskan saat ini perusahaan masih menanggung pembayaran 142 pesawat dengan total biaya mencapai 80 juta dolar AS per bulan. Padahal hanya 41 pesawat saja yang dioperasikan lantaran tingkat permintaan yang rendah. Biaya ini berasal dari biaya sewa, biaya maintenance dan reparasi serta biaya maintenance lainnya.

"Leasing cost kita hanya 56 juta dolar (per bulan) dari sebelumnya 75 juta per bulan dolar AS. Jadi ada kurang lebih 80 juta dolar per bulan yang wajib kita bayar secara buku," kata dia di kesempatan yang sama.

"Selisih dari dua ini (101 pesawat tak operasional) kurang lebih 40 juta dolar sendiri. Jadi kerugian kita itu sebenarnya murni karena tadi pesawat yang underutilized asset, yang asetnya tetap kita bayar secara fixed cost kita tetapi pesawat tidak menghasilkan revenue," sambungnya.

Dony berujar jika perusahaan tidak melakukan renegosiasi dengan lessor, meski mendapatkan bantuan pendanaan berupa penyertaan modal negara (PMN) dari pemerintah, perusahaan akan tetap merugi tiap tahunnya.

Sebelumnya, Garuda Indonesia telah mengembalikan dua armada pesawat dengan jenis B737-800 NG lebih awal sebelum jatuh tempo masa sewa. Percepatan pengembalian ini dilakukan setelah adanya kesepakatan antara perseroan dengan lessor pesawat di mana salah satu syaratnya yakni melakukan perubahan kode registrasi pesawat terkait.

Seperti diketahui maskapai penerbangan pelat merah itu saat ini tengah berdarah-darah dalam mempertahankan bisnis dalam kondisi jeratan utang yang mencapai Rp70 triliun. Jumlahnya dapat bertambah setiap bulan sebanyak Rp1 triliun imbas minimnya okupansi penumpang.

Tercatat kerugian yang harus ditanggung Garuda Indonesia dalam sebulan mencapai 100 juta dolar AS. Sementara pengeluarannya 150 juta dolar AS, sedangkan pendapatan yang diterima hanya 50 juta dolar AS.