Vietnam dan Filipina Pererat Kerja Sama, Isu Laut Jadi Sorotan
JAKARTA - Vietnam dan Filipina sepakat meningkatkan hubungan menjadi Kemitraan Strategis yang Ditingkatkan. Kesepakatan itu dicapai saat pemimpin tertinggi Vietnam, To Lam, bertemu Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. di Manila, 1 Juni.
Vietnam News Agency (VNA) dikutip Senin, 1 Juni, melaporkan, kunjungan To Lam menjadi kunjungan pertama Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam ke Filipina. Momentum itu juga bertepatan dengan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 1976-2026.
Marcos Jr. menyebut Vietnam sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki kemitraan strategis dengan Filipina. Ia mengatakan peningkatan hubungan ini akan memperkuat kerja sama politik, pertahanan, keamanan, dan bidang lain yang berdampak langsung bagi kedua negara.
To Lam menyatakan Vietnam ingin memperdalam hubungan bertetangga dengan Filipina atas dasar perdamaian, stabilitas, dan penghormatan terhadap hukum internasional.
“Vietnam selalu menghargai dan ingin makin memperdalam hubungan bertetangga yang bersahabat dengan Filipina di semua bidang,” kata To Lam.
Baca juga:
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin sepakat menyusun program aksi untuk menjalankan kerangka kerja sama baru. Mereka juga akan memperkuat kontak tingkat tinggi, pertukaran delegasi, mekanisme kerja sama, serta hubungan antarlembaga dan antardaerah.
Isu laut menjadi salah satu titik penting. Vietnam dan Filipina sepakat memperkuat kerja sama keamanan, pertahanan, maritim, dan kelautan. Keduanya juga menekankan pentingnya kebebasan navigasi dan penerbangan, serta menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Kedua negara juga akan berbagi pengalaman dalam memberantas IUU fishing, yakni penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur. Kerja sama itu mencakup perlindungan lingkungan laut dan perikanan berkelanjutan.
Menurut VNA, Vietnam dan Filipina juga menargetkan nilai perdagangan 10 miliar dolar AS sesegera mungkin. Keduanya sepakat mengurangi hambatan dagang, membuka pasar produk pertanian, termasuk buah segar, dan memperluas kerja sama di ekonomi digital, ekonomi hijau, ekonomi biru, pertanian berteknologi tinggi, serta energi terbarukan.
Marcos Jr. menyebut Vietnam sebagai mitra penting bagi Filipina dalam penyediaan pupuk dan beras untuk menjaga ketahanan pangan. Ia mengusulkan sidang ke-3 Komite Bersama Filipina-Vietnam tentang Perdagangan segera digelar.
Filipina juga membuka pintu bagi investor Vietnam di sektor energi terbarukan, layanan kesehatan, dan transformasi digital.
Kerja sama pendidikan, budaya, dan pariwisata ikut dibahas. Marcos Jr. berharap arus wisatawan kedua negara meningkat dan kerja sama antaruniversitas diperkuat, terutama di bidang baru seperti kecerdasan buatan.
Kedua pemimpin juga sepakat mendorong pertanian berkelanjutan, pertanian regeneratif, konektivitas infrastruktur, tambahan rute penerbangan langsung, kerja sama pelabuhan utama, pemerintahan elektronik, kota pintar, dan penerapan kecerdasan buatan.
Di forum kawasan dan global, Vietnam dan Filipina berkomitmen memperkuat koordinasi di PBB dan ASEAN. Marcos Jr. berterima kasih atas dukungan Vietnam saat Filipina menjadi Ketua ASEAN pada 2026.
Keduanya juga menegaskan penyelesaian sengketa harus dilakukan secara damai berdasarkan hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982. Vietnam dan Filipina akan berkoordinasi dengan negara ASEAN untuk mendorong Kode Etik di Laut Timur atau COC, yakni pedoman perilaku negara-negara di Laut Timur/Laut China Selatan yang efektif dan sesuai hukum internasional.