Energi Hijau China Melonjak, Jaringan Listrik Dikejar Tugas Berat

JAKARTA - China sedang kebanjiran listrik hijau. Kapasitas tenaga surya dan angin melonjak cepat. Masalahnya, listrik bersih itu tidak cukup hanya dibangun. Ia juga harus bisa diserap jaringan.

Mengutip laporan China Daily, Kamis, 28 Mei, para pakar industri mendorong China memakai strategi konsumsi energi yang lebih tepat sasaran. Sebab, tantangan pemanfaatan energi baru akan makin berat pada periode Rencana Lima Tahun ke-15, yakni 2026–2030.

Gan Mengying, peneliti di State Grid Energy Research Institute, mengatakan konsumsi dan pemanfaatan energi baru China membutuhkan langkah yang berbeda di tiap wilayah.

“Diperlukan langkah yang berbeda-beda dan tepat sasaran untuk mendorong konsumsi,” kata Gan.

Menurut Gan, sistem kelistrikan harus dibuat lebih lentur. Bukan hanya pembangkitnya, tetapi juga jaringan, beban pemakaian, dan penyimpanan energi.

Ini penting karena listrik dari tenaga surya dan angin tidak selalu stabil. Matahari tidak bersinar sepanjang hari. Angin juga tidak selalu bertiup. Karena itu, jaringan listrik harus siap menyerap pasokan besar yang datang naik-turun.

Administrasi Energi Nasional China atau NEA menyebut kapasitas baru tenaga surya dan angin di China melampaui 430 juta kilowatt pada 2025. Angka itu naik 22 persen dibanding tahun sebelumnya dan mencetak rekor.

Lonjakan tersebut membuat total kapasitas tenaga angin dan surya yang tersambung ke jaringan mencapai 1,84 miliar kilowatt. Porsinya setara 47,3 persen dari total kapasitas listrik terpasang China.

Untuk pertama kalinya, kapasitas angin dan surya melampaui pembangkit listrik termal, termasuk pembangkit berbahan bakar fosil.

Namun, rekor itu datang bersama pekerjaan rumah besar. Menurut laporan State Grid Energy Research Institute, penambahan energi bersih secara cepat mulai memunculkan persoalan stabilitas jaringan di berbagai daerah.

Pendekatan lama yang seragam untuk semua wilayah dinilai tidak lagi cocok. Tiap provinsi punya kondisi berbeda: ada yang kaya angin dan matahari, ada yang padat industri, ada pula yang butuh listrik besar tetapi tidak punya cukup pembangkit bersih.

Menurut China Daily, laporan itu menyarankan peran pembangkit batu bara mulai digeser. Batu bara tidak lagi sekadar menjadi tulang punggung beban dasar, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai cadangan yang cepat merespons kebutuhan sistem.

Tenaga air juga perlu ditingkatkan perannya. Bukan hanya memasok listrik, tetapi juga membantu mengatur pasokan saat beban puncak dan menjaga kestabilan sistem.

Tenaga nuklir diarahkan untuk tetap menjamin pasokan dasar, sekaligus dimanfaatkan lebih luas dalam sistem energi.

Perbedaan wilayah menjadi kunci. Di sejumlah provinsi timur yang kebutuhan listriknya tinggi, pembatasan energi terbarukan hanya terjadi pada waktu tertentu, seperti hari libur atau tengah hari. Wilayah seperti ini cukup membutuhkan optimalisasi pembangkit yang sudah ada.

Situasinya berbeda di wilayah barat. Di sana, pasokan energi terbarukan sangat besar. Agar listrik hijau tidak terbuang, dibutuhkan investasi besar pada pembangkit listrik tenaga air pompa, penyimpanan energi elektrokimia, dan jalur transmisi antarprovinsi.

Pembangkit listrik tenaga air pompa bekerja seperti “baterai raksasa”. Saat listrik berlebih, air dipompa ke tempat lebih tinggi. Saat listrik dibutuhkan, air dialirkan turun untuk memutar turbin.

China menyiapkan investasi jumbo 5 triliun yuan, atau sekitar 722 miliar dolar AS, untuk jaringan listrik dalam lima tahun ke depan. Dana ini diarahkan untuk mengurai hambatan energi terbarukan dan membantu China mengejar target puncak emisi karbon pada 2030.

China sudah berlari cepat membangun pembangkit hijau. Kini ujian berikutnya adalah memastikan listrik itu benar-benar masuk jaringan, dipakai, dan tidak terbuang sia-sia.