Bagikan:

JAKARTA - China mulai mengandalkan reformasi berbasis pasar untuk menjaga ketahanan energi di tengah naiknya kapasitas energi baru dan terbarukan (EBT), terutama tenaga surya dan angin, yang dinilai makin menekan stabilitas jaringan listrik.

Berdasarkan laporan China Daily yang dikutip Rabu, 25 Maret, Kepala Administrasi Energi Nasional China Wang Hongzhi mengatakan pemerintah ingin membangun pasar energi nasional yang terpadu dan memanfaatkan sinyal harga untuk mendorong transisi hijau sekaligus menjaga pasokan energi tetap andal.

Menurut Wang, tantangan utama ke depan datang dari pesatnya ekspansi energi terbarukan. Saat porsi tenaga surya dan angin makin besar dalam bauran energi, sifat pasokannya yang tidak stabil membuat tekanan terhadap jaringan listrik ikut meningkat.

Karena itu, China ingin memakai mekanisme pasar dan sinyal harga untuk mengarahkan investasi ke sumber daya penopang beban dasar dan pengatur yang lebih fleksibel. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keandalan pasokan sambil mendorong penggantian bahan bakar fosil secara bertahap.

Kebijakan itu akan menjadi bagian dari Rencana Lima Tahun ke-15 China periode 2026-2030. Sasarannya adalah merombak sistem pasar listrik, minyak, gas, dan batu bara agar terhubung dalam satu pasar energi nasional.

Pemerintah China juga ingin mendorong apa yang disebut sebagai “kekuatan produktif berkualitas baru” di sektor energi. Melalui sistem harga yang mencerminkan kemajuan teknologi dan efisiensi, modal diharapkan mengalir ke inovasi penting seperti integrasi kecerdasan buatan dengan energi, jaringan mikro pintar, dan hidrogen hijau.

Fondasi ke arah itu, menurut data Institut Riset Ekonomi dan Teknologi CNPC yang dilansir dari China Daily, mulai terlihat. Produksi energi domestik China tumbuh rata-rata 3,6 persen per tahun dalam satu dekade terakhir. Kenaikan itu ikut mendorong tingkat swasembada energi sekitar 0,5 poin persentase per tahun.

Presiden institut tersebut, Lu Ruquan, mengatakan tingkat swasembada energi China diperkirakan mencapai 83,1 persen pada akhir 2025. Pada periode yang sama, kapasitas baru terpasang tenaga angin dan surya China telah melampaui 100 juta kilowatt selama enam tahun berturut-turut dan diperkirakan menyumbang lebih dari separuh total kapasitas global pada akhir 2025.

Masalah yang kini dihadapi China bukan lagi hanya menambah pembangkit surya dan angin. Yang lebih rumit adalah menjaga agar listrik dari EBT yang terus bertambah itu tetap bisa masuk ke sistem tanpa mengganggu pasokan.