Pasar Digital RI Membesar, Bamsoet Dorong China Bangun Data Center

JAKARTA — Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong investor China masuk ke proyek data center di Indonesia. Menurut Bamsoet, pasar digital Indonesia yang terus membesar harus diikuti pembangunan infrastruktur cloud, kecerdasan buatan, dan penyimpanan data.

Dorongan itu disampaikan Bamsoet setelah mendampingi Wakil Gubernur Provinsi Hebei, China, Zhao Chenxin, bersama sejumlah pengusaha China bertemu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa, 26 Mei.

“Investor dari China memiliki kapasitas teknologi, pembiayaan, dan pengalaman membangun ekosistem digital berskala besar yang bisa dipadukan dengan potensi dalam negeri,” kata Bamsoet.

Ia mengatakan Indonesia perlu menjadi tujuan utama investasi data center dengan memberi kepastian regulasi, ketersediaan energi, insentif fiskal, dan kemudahan perizinan.

Menurut Bamsoet, kebutuhan data center di Indonesia meningkat seiring tumbuhnya layanan digital, cloud, dan AI. Ia menyebut jumlah koneksi perangkat internet di Indonesia telah menembus lebih dari 350 juta. Pasar data center Indonesia juga diproyeksikan mencapai 9,43 miliar dolar AS pada 2030.

Bamsoet menilai sejumlah wilayah memiliki peluang besar untuk pengembangan data center berskala internasional. Batam unggul karena dekat dengan Singapura. Cikarang kuat karena berada di koridor industri Jawa. Manado mulai dilirik karena tersambung jaringan kabel bawah laut internasional menuju pasar Amerika Serikat.

“Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan baru industri data center di Asia,” ujar Bamsoet.

Namun, Bamsoet mengingatkan investasi digital tidak boleh berdiri sendiri. Ia menilai penguatan ekonomi digital harus berjalan bersama pembenahan logistik, perdagangan, dan shipping line nasional.

Menurutnya, ketergantungan Indonesia pada kapal asing untuk angkutan ekspor-impor masih membuat biaya logistik tinggi dan devisa mengalir keluar. Biaya logistik Indonesia disebut masih berada di atas 14 persen terhadap produk domestik bruto.

“Selama angkutan laut ekspor-impor masih didominasi pihak asing dan tata kelola perdagangan belum transparan, maka keuntungan ekonomi nasional akan terus bocor,” kata Bamsoet.

Ia mendorong pembenahan pelabuhan, kepabeanan, sistem ekspor, serta penguatan armada nasional. Bamsoet juga menyoroti dugaan praktik manipulasi dokumen ekspor, under-invoicing, transfer pricing, dan penempatan keuntungan di luar negeri.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perdagangan Barang Distributor Keagenan dan Industri (ARDIN) Indonesia, penguatan pengawasan ekspor dan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri penting agar manfaat perdagangan kembali ke perekonomian nasional.

“Setiap dolar hasil ekspor sumber daya alam harus memberikan dampak bagi pembangunan nasional,” ujarnya.

Bamsoet menilai pembangunan data center, pembenahan shipping line, dan penguatan industri maritim perlu dibaca sebagai satu paket transformasi ekonomi Indonesia. Bukan hanya agar Indonesia menjadi pasar digital besar, tetapi juga agar nilai tambahnya tidak lari ke luar negeri.