14 Tahun Lawan Love Scam, RSC-WSC Kumpulkan Relawan Pendidikan Digital
JAKARTA - Pertemuan keluarga besar Relawan Siaga Cerdas–Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC) di Jakarta, Sabtu, 23 Mei 2026, bukan sekadar temu kangen. Acara itu kembali mengingatkan ancaman penipuan digital berkedok asmara atau love scam yang masih menyasar masyarakat.
Pembina RSC-WSC, Iptu Daniel Bachrul Rohmat, SH, yang juga menjabat Katim Cyber Patrol Ropaminal Divpropam Polri, mengatakan kegiatan tersebut penting untuk menjaga jaringan edukasi dan kewaspadaan terhadap kejahatan digital.
“Love scam bukan sekadar penipuan uang. Banyak korban juga mengalami tekanan batin karena dimanipulasi secara emosional. Karena itu, edukasi harus terus dilakukan,” kata Iptu Daniel.
RSC-WSC mempertemukan kembali para relawan dan pegiat literasi digital yang selama ini aktif memberi edukasi kepada masyarakat.
Modus love scam biasanya menggunakan akun palsu, rayuan asmara, manipulasi emosional, pemerasan, hingga permintaan uang kepada korban melalui media sosial atau aplikasi percakapan.
“Masyarakat harus makin waspada. Jangan mudah percaya pada akun yang baru dikenal di media sosial, apalagi jika sudah mulai meminta uang atau data pribadi,” ujar Iptu Daniel.
Baca juga:
Salah satu penggerak awal WSC adalah Bunda Feydown, warga negara Indonesia yang tinggal di Australia. Sejak sekitar 2012, ia aktif mengedukasi masyarakat tentang bahaya akun palsu dan penipuan asmara daring.
Di Indonesia, penguatan RSC-WSC dilakukan oleh Diah Agung Esfandari, MSi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Telkom yang menjadi Ketua Komunitas RSC-WSC.
Diah berperan dalam memperkuat literasi digital, edukasi publik, pendampingan korban, serta pengembangan gerakan sosial untuk melindungi masyarakat dari berbagai modus penipuan daring.
Pertemuan itu juga menjadi ruang untuk merawat hubungan antaranggota yang selama ini bergerak dalam isu yang sama. Mereka berbagi pengalaman, cerita lama, dan memperkuat lagi kerja edukasi anti-love scam.
RSC-WSC berharap gerakan edukasi ini terus meluas. Sebab, penipuan digital berkedok asmara tidak hanya merugikan korban secara finansial, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang sering kali tidak mudah dipulihkan.