JAKARTA - Badan perikanan Jepang mengatakan pada Hari Selasa, mereka akan meluncurkan penjualan pertama di dunia kepada publik belut laut (anago) yang ditetaskan dan dibesarkan sepenuhnya di peternakan, di tengah kekhawatiran global tentang menipisnya populasi belut di alam liar.
Toko online yang dikelola oleh peritel besar Aeon Group akan menjual produk tersebut secara percobaan mulai 29 Mei, dengan harga sekitar 5.000 yen (Rp555.918) per ekor.
Dalam acara media pada Hari Selasa Menteri Pertanian Norikazu Suzuki memakan hidangan belut bakar atau "kabayaki" yang disiapkan dengan belut yang telah ditetaskan dan dibesarkan di tambak.
Menteri Suzuki mengatakan pemerintah akan terus mendukung upaya untuk menghadirkan belut hasil budidaya sepenuhnya kepada masyarakat karena menjaga keberlanjutan populasi belut menjadi semakin penting, melansir Kyodo News 20 Mei.
Sebagian besar belut yang dikonsumsi di Jepang ditangkap di laut pada awal siklus hidupnya dan dibesarkan di peternakan ikan.
Tetapi karena keberlanjutan populasi belut liar menghadapi tekanan yang meningkat, upaya sedang dilakukan untuk mengkomersialkan produksi belut menggunakan telur yang diambil dari belut budidaya.
Biaya pakan ikan dan tenaga kerja sangat membebani usaha ini, tetapi peningkatan melalui kemajuan teknologi telah membantu mengurangi biaya produksi secara drastis.
Dari biaya budidaya sekitar 40.000 yen per ekor belut selama tahun fiskal 2016, angka tersebut telah turun menjadi sekitar 1.800 yen saat ini, menurut Badan Penelitian dan Pendidikan Perikanan Jepang.
Tujuannya sekarang adalah untuk menurunkannya menjadi sekitar 800 yen, karena biaya saat ini masih tiga hingga empat kali lebih tinggi daripada budidaya belut yang ditangkap secara alami.
BACA JUGA:
Di tengah kekhawatiran tentang keberlanjutan populasi belut, pemerintah berencana untuk mengubah metode produksi sehingga pada tahun 2050, semua belut yang didistribusikan akan ditetaskan secara buatan dari telur dan dibesarkan di tambak ikan.
Dish of the Year" Tahun 2024 di Jepang">