Menteri Agama  Nilai Kiprah Fatayat NU Mampu Hadir di Berbagai Ruang Strategis

JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengapresiasi kiprah kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) yang dinilai mampu hadir dan berkontribusi di berbagai ruang strategis, baik dalam bidang sosial, pendidikan, pemerintahan, maupun pemberdayaan masyarakat.

“Saya tidak ingin mengatakan berlebihan, tetapi coba bandingkan, ada tidak tokoh-tokoh perempuan dari organisasi lain yang sehebat kader-kader perempuan Nahdlatul Ulama. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di forum-forum internasional,” ujar Nasaruddin Umar saat menghadiri Harlah ke-76 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu.

Nasaruddin menyebut kader-kader perempuan NU telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang kuat dan tidak kalah dengan tokoh-tokoh perempuan di tingkat nasional maupun internasional.

Ia menilai kiprah tersebut menjadi bukti bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Menag menyoroti banyaknya kader perempuan NU yang kini dipercaya menduduki posisi penting di pemerintahan maupun lembaga publik.

“Capaian tersebut lahir dari proses panjang kaderisasi dan pengabdian yang dilakukan secara konsisten oleh Fatayat NU dan Muslimat NU,” ujar Menag.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menyampaikan bahwa perempuan tidak semestinya merasa rendah diri atau dipinggirkan atas nama agama. Ia menegaskan relasi laki-laki dan perempuan dalam Islam dibangun di atas prinsip kesetaraan dan saling melengkapi.

“Tidak ada dalil yang bisa digunakan untuk mendiskreditkan perempuan. Semua ayat yang berbicara tentang relasi gender dalam Al Quran menggunakan konsep kesetaraan,” katanya.

Ia menjelaskan sejumlah tafsir keagamaan yang selama ini dianggap meminggirkan perempuan sesungguhnya lahir dari budaya masyarakat patriarkis pada masa tertentu, bukan berasal dari substansi ajaran Al Quran itu sendiri.

Karena itu, ia mendorong kader Fatayat NU untuk memiliki keberanian intelektual dalam memahami teks-teks keagamaan secara lebih adil dan kontekstual.

Ia mencontohkan penafsiran terhadap Surah An-Nisa ayat 34 tentang relasi laki-laki dan perempuan. Menurutnya, Kementerian Agama telah memperbaiki sejumlah terjemahan yang dinilai bias gender agar lebih menekankan hubungan yang bersifat fungsional, bukan struktural.

“Dulu diterjemahkan laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Sekarang kita pahami sebagai pelindung terhadap perempuan. Jadi relasinya fungsional, bukan struktural,” kata dia.

Lebih lanjut, Nasaruddin menyebut perempuan memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin selama memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan yang memadai. Ia bahkan mengungkapkan pengalaman Kementerian Agama yang kini dipimpin sejumlah rektor perempuan di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.