Teguh Santosa Bongkar Ideologi Pembangunan Prabowo: Negara Harus Kuat Lawan Stagnasi Ekonomi

SURABAYA — Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menilai pemerintahan Prabowo Subianto sedang membangun arah baru pembangunan nasional yang bertumpu pada negara kuat, kedaulatan ekonomi, dan keberanian keluar dari jebakan stagnasi.

Pandangan itu disampaikan Teguh dalam seminar bertajuk “Ideologi Pembangunan Prabowo Subianto” di Surabaya, Senin, 11 Mei 2026.

Menurut Teguh, kebijakan yang dijalankan pemerintah saat ini bukan langkah sporadis. Seluruhnya disebut lahir dari kerangka berpikir yang sebelumnya sudah dituangkan Prabowo dalam buku Paradoks Indonesia.

Untuk membedah arah pembangunan itu, Teguh menggunakan tiga buku sebagai pisau analisis. Ketiganya adalah Politics Among Nations, The Tragedy of Great Power Politics, dan Breakout Nations.

Teguh menjelaskan, pemikiran Morgenthau menempatkan dunia internasional sebagai arena tanpa otoritas tunggal. Dalam situasi itu, negara dipaksa bertahan dengan kekuatannya sendiri.

Karena itu, kata Teguh yang juga dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Prabowo memilih pendekatan pembangunan yang menempatkan keamanan nasional dan kemandirian ekonomi sebagai prioritas utama.

Sementara dari perspektif Mearsheimer, Teguh melihat adanya pergeseran dari ekonomi liberal berbasis pasar menuju model pembangunan yang lebih dikendalikan negara atau state-driven.

“Dunia bergerak ke arah yang makin keras. Negara yang terlalu bergantung pada pasar akan mudah terguncang,” ujar Teguh.

Ia menilai pendekatan itu terlihat dalam kebijakan hilirisasi, penguatan industri strategis, hingga pembentukan BPI Danantara untuk memperkuat daya dukung finansial nasional.

Menurut Teguh, arah pembangunan Prabowo juga membawa jejak pemikiran ekonom senior Soemitro Djojohadikusumo yang menekankan industrialisasi dan kemandirian ekonomi nasional.

Di sektor sosial, Teguh yang juga Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ini menyebut program Sekolah Rakyat dan Makan Bergizi Gratis bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.

“Tanpa rakyat sehat dan terdidik, bonus demografi hanya berubah menjadi beban,” katanya.

Ia juga menilai pembentukan Koperasi Merah Putih menjadi bagian dari upaya membatasi konsentrasi kekayaan pada kelompok elite tertentu.

Namun Teguh mengingatkan, ujian terbesar pemerintah justru terletak pada keberanian menegakkan hukum terhadap oligarki dan pelanggaran lingkungan.

Dalam seminar itu, Teguh juga menyoroti isu transisi energi. Menurutnya, banyak negara gagal keluar dari stagnasi ekonomi karena terlambat membangun kedaulatan energi.

Indonesia, kata Teguh, memiliki peluang besar lewat Energi Baru Terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan bioenergi berbasis CPO.

Di akhir, Teguh menegaskan ideologi pembangunan Prabowo tidak akan berjalan tanpa partisipasi publik. Menurutnya, stagnasi ekonomi hanya bisa dipatahkan jika negara kuat dan rakyat terlibat aktif menjaga arah pembangunan nasional.