Bagikan:

JAKARTA - Analis geopolitik, Foad Izadi, menilai sulit jika Presiden Donald Trump terus menekan hasil negosiasi dengan Iran bisa menguntungkan AS lebih dari kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) era Barack Obama.

Menurut pengamat yang juga profesor di University of Tehran itu, retorika Trump yang berapi-api juga tidak membantu mencapai kesepakatan dengan Iran.

“Ketika dia berbicara tentang menghancurkan peradaban Iran, mengembalikan Iran ke Zaman Batu, melihat pukulan besar di Iran – setidaknya di Iran, orang-orang berpikir bahwa dia [Trump] merujuk pada serangan terhadap Iran dengan senjata nuklir,” kata Izadi kepada Al Jazeera, Selasa 12 Mei.

Izadi menjelaskan, perkataan Trump ingin menghancurkan peradaban Iran telah dinilai sebagai niat besar rezim AS saat ini menggunakan senjata nuklir.

Dia menegaskan, pelanggaran hukum internasional dalam perang akan berujung pada balasan oleh Iran.

“Karena jika Trump menyerang Iran dengan senjata nuklir atau mengancam akan menyerang Iran dengan senjata nuklir, maka itu akan memberi izin kepada Iran untuk melakukan sesuatu dengan uranium yang diperkaya itu,” terang Izadi.

Namun dalam perkembangannya, Izadi menilai baik dari AS maupun Iran tidak menginginkan perang besar. Sehingga, lanjut dia, kesepakatan yang tidak menekan kedua belah pihak sebaiknya diutamakan.

"Penyelesaian damai lebih disukai," kata Izadi.