Melani Mecimapro Perluas Arah Bisnis, Tak Hanya Andalkan Pasar K-pop
JAKARTA - CEO Melania Citra Permata (Mecimapro), Franciska Dwi Melani, memberikan sinyal kuat untuk memperluas segmennya di industri hiburan Tanah Air.
Setelah belasan tahun identik sebagai promotor konser K-Pop di Indonesia, wanita yang akrab disapa Melani itu menegaskan kesiapannya untuk merambah pasar hiburan yang lebih luas dan adaptif terhadap dinamika yang ada.
Lewat wawancara virtual bersama awak media pada Kamis, 7 Mei, Melani merefleksikan perjalanannya membangun Mecimapro di tengah pasang surut industri kreatif.
Pengalamannya selama belasan tahun menjadi modal utama bagi perusahaan untuk bertransformasi menjadi entitas hiburan yang tidak hanya bergantung pada satu segmen penggemar saja.
"Perjalanan saya di dunia K-Pop sudah 16 tahun. Itu jadi perjalanan dan identitas saya dan Mecimapro karena kita tumbuh melihat perkembangan pasar K-Pop di Indonesia selama bertahun-tahun," kata Melani saat memaparkan visinya.
Langkah baru yang diusung mencakup pengembangan live experiences, konten digital, fandom culture, hingga acara berbasis komunitas. Ia juga membuka peluang kolaborasi lintas industri dan negara, termasuk menggandeng musisi lokal Indonesia guna mengikuti tren budaya yang kian dinamis.
Melani menekankan pentingnya keberlanjutan bisnis di tengah persaingan yang ketat. "Saya ingin (Mecimapro) jadi perusahaan entertainment yang lebih adaptif sama perubahan, kreatif, dan bisa sustainable dalam jangka waktu yang panjang," tegasnya.
Baca juga:
Sebagai pengusaha yang telah melewati berbagai dinamika pasar, Melani menyadari bahwa industri konser memiliki efek domino yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, satu gelaran konser internasional mampu menggerakkan berbagai sektor mulai dari perhotelan, transportasi, UMKM, kuliner, hingga sektor pariwisata secara umum.
"Konser internasional bukan hanya soal hiburan, tetapi juga menggerakkan banyak sektor ekonomi. Kami ingin tetap berusaha memberikan kontribusi bukan hanya dalam musik K-Pop, tapi ke industri ekonomi kreatif di Indonesia sendiri," tuturnya.
Lebih lanjut, mengingat posisi Mecimapro sebagai anggota aktif Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), Melani turut menyoroti tantangan mendasar yang dihadapi para pelaku industri, yakni ketersediaan infrastruktur. Ia membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura yang memiliki venue khusus bertaraf dunia.
"Penguatan dari sisi infrastruktur, yang saya harapkan. Kita tuh belum punya venue yang bisa seperti vendor lain seperti di Amerika, atau Singapura seperti Singapore Stadium. Harusnya juga ada kemudahan komunikasi lintas sektor," ujar Melani.
Ia meyakini jika komunikasi lintas sektor diperbaiki dan infrastruktur diperkuat, Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk menjadi pasar hiburan terbesar di Asia. Apalagi, saat ini penonton konser di Indonesia dinilai semakin dewasa dengan ekspektasi tinggi terhadap kualitas produksi serta pengalaman selama berada di lokasi acara.
Melani menyadari bahwa perjalanan di masa lalu tidak selalu mulus dan sempat mengecewakan beberapa pihak. Namun dengan optimisme, ia berkomitmen untuk membangun ekosistem yang lebih solid bersama vendor, venue, dan seluruh pemangku kepentingan.
"Penonton sudah mature dan punya ekspektasi tinggi terhadap kualitas produksi konser, experience di venue sendiri. Oleh karenanya promotor harus lebih adaptif dan lebih hati-hati membangun ekosistemnya," pungkas Melani.