Terima Aduan Mahasiswa, Mentan Amran Siap Sikat Mafia Pupuk dan Bawang

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mendapatkan aduan dari mahasiswa terkait dengan kelangkaan pupuk, hingga mafia bawang.

Adapun kelangkaan pupuk terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagai tindak lanjut dari laporan tersebut, Amran mengaku telah mencabut izin perusahaan yang membuat kelangkaan pupuk.

“Dicabut tadi sudah dicabut. Cuma 10 menit dicabut (izinnya) karena online dan itu diproses hukum. Tidak boleh (pupuk langka). Terima kasih mahasiswa. Ini yang kita harapkan,” katanya usai bertemu dengan BEM Seluruh Indonesia di Jakarta, Rabu, 6 Mei.

Sementara laporan terkait bawang ilegal, sambung Amran, di Sumatera Utara. Amran mengaku langsung melakukan penindakan setelah menerima laporan tersebut. Namun sayang, dia tak menjelaskan total kerugiannya.

“Ada juga mahasiswa tadi (lapor) bawang ilegal. Dari Sumatera Utara. Ada orangnya (pelapor) di belakang masih ada. Nah itu ditangkap, masukkan penjara,” ujarnya.

Amran menekankan bahwa praktik-praktik semacam itu tidak boleh dibiarkan. Sebab, bisa merusak tata kelola pangan nasional.

“Apa negeri ini bisa makmur, bisa menjadi negara superpower kalau kita melakukan satu kali pembiaran? Sama dengan beternak kejahatan di Republik ini,” tuturnya.

Ke depan, Amran pun berharap mahasiswa semakin kritis dan bisa menjadi mata rantai Kementerian Pertanian dalam mendeteksi adanya pelanggaran di sektor pertanian. Dia juga meminta mahasiswa untuk tidak takut melapor.

Lebih lanjut, Amran bilang pemerintah juga membutuhkan masukan dari generasi muda untuk mengawasi berbagai persoalan terutama di sektor pertanian.

“Kita ini butuh pengkritik yang konstruktif untuk membangun negara yang kita cintai,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Amran juga memaparkan tentang capaian sektor pertanian. Dia bilang mahasiswa juga dipersilakan memantau langsung kondisi gudang pangan nasional atau gudang Bulog.

Amran juga mengungkapkan, stok beras pemerintah saat ini yang ada di gudang Bulog mencapai 5,2 juta ton atau tertinggi sejak Indonesia merdeka.

“Jangan kita tutupi. Kami bebaskan bertanya, silakan bertanya. Gudang (Bulog) seluruh Indonesia, BEM seluruh Indonesia, kami bebaskan bertanya kepada gudang-gudang,” jelasnya.