Hizbullah Lebanon Beri 5 Syarat ke Israel Jika Ingin Negosiasi Damai
JAKARTA - Hizbullah membuka kemungkinan menggelar negosiasi langsung dengan Israel. Namun, sebanyak lima syarat harus dipenuhi Israel terlebih dahulu.
Israel dengan dukungan Amerika Serikat (AS) memulai serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada 23 September 2024 menewaskan 558 orang, termasuk 50 anak dan 94 perempuan.
Agresi meningkat pada awal Maret 2026, Israel memperluas operasi daratnya dan mencaplok sebagian wilayah Lebanon Selatan dengan dalih dijadikan zona penyangga untuk melindungi dari serangan.
“Menghentikan agresi di darat, laut, dan udara, penarikan Israel dari wilayah pendudukan, pembebasan tahanan, kembalinya rakyat ke semua desa dan kota mereka, dan rekonstruksi,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hizbullah Naim Qassem pada Senin 27 April, dikutip dari Al Jazeera.
Dalam kesempatan sama, Qassem menggambarkan pasukan Israel saat ini menemui jalan buntu untuk menaklukan Lebanon secara penuh.
Ia pun mendukung Pemerintah Lebanon dipimpin Presiden Joseph Aoun menggelar dialog internal daripada mengejar kesepakatan dengan Israel.
Langkah bilateral Pemerintah Lebanon terhadap Israel yang berujung kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari sejak 16 April nyatanya dilanggar.
“Musuh telah mencapai jalan buntu, perlawanan ini terus-menerus, kuat, dan tidak dapat dikalahkan,” ujarnya.
BBC melaporkan, Israel kembali melanggar gencatan senjata dengan Pemerintah Lebanon. Pasukan Israel pada Senin 27 April saja, melancarkan serangan ke Kota Arnoun, membunuh 14 warga sipil, 2 di antaranya anak-anak dan 2 lainnya perempuan. Sementara 37 warga Lebanon lainnya mengalami luka-luka.