Pesanan Senjata Meledak, Industri Senjata AS Belum Panen Besar
JAKARTA - Perang membuat pesanan senjata dan pesawat militer melonjak. Namun, laporan keuangan terbaru menunjukkan pabrik senjata Amerika Serikat belum sepenuhnya menikmati limpahan pesanan itu.
Disadur dari Al Jazeera, Jumat, 24 April, perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran dan perang Rusia–Ukraina membuat permintaan senjata meningkat. Pentagon juga sedang mengisi ulang stok senjata dan pesawat.
Masalahnya, produksi tidak selalu bisa mengikuti kebutuhan. Laporan kuartal I Lockheed Martin, Northrop Grumman, RTX, dan Boeing masih dibayangi gangguan rantai pasok serta keterlambatan produksi.
Lockheed Martin mencatat laba bersih 1,5 miliar dolar AS pada kuartal I 2026, turun dari 1,7 miliar dolar AS setahun sebelumnya. Perusahaan ini tersandung keterlambatan pengembangan jet tempur F-16 dan tekanan pasokan pada pesawat angkut C-130.
Baca juga:
Biaya pengerjaan ulang dan jadwal yang molor ikut menekan kinerja Lockheed. Penjualan program rahasia juga turun. Kenaikan penjualan F-35 hanya mampu menahan penurunan lebih dalam.
Pemerintahan Presiden Donald Trump mengusulkan pembelian 85 jet F-35 baru pada 2027. Namun, pasar belum puas. Saham Lockheed turun 5,1 persen pada perdagangan Kamis dan melemah lebih dari 12 persen dalam lima hari terakhir.
Boeing mulai membaik
Boeing mencatat kerugian kuartal I sebesar 7 juta dolar AS. Angka itu jauh lebih kecil dibanding kerugian 31 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan sektor pertahanan dan antariksa Boeing naik 50 persen menjadi 233 juta dolar AS. Pada Maret, Boeing juga mendapat tambahan kontrak 2,3 miliar dolar AS dari Pentagon.
Kinerja Boeing ikut ditopang proyek luar angkasa, termasuk misi Artemis II NASA. Di bisnis pesawat komersial, pengiriman kuartal I menjadi yang tertinggi sejak 2019.
Namun, Boeing masih mengeluarkan kas 1,5 miliar dolar AS untuk meningkatkan produksi dan mempercepat sertifikasi 737 MAX serta 777X.
Pesanan naik, kendala tetap ada
Northrop Grumman membukukan pendapatan 9,88 miliar dolar AS, naik 4,4 persen dari tahun sebelumnya. Permintaan pesawat pengebom siluman B-21 menjadi salah satu penopang.
Perusahaan itu juga mendapat dorongan dari anggaran 1,9 miliar dolar AS untuk B-21 Raider dan kesepakatan dengan Angkatan Udara AS untuk menaikkan kapasitas produksi pesawat tersebut sebesar 25 persen.
RTX, induk Raytheon, mencatat pendapatan 22,08 miliar dolar AS, naik 9 persen. Permintaan sistem rudal dan pertahanan udara menjadi pendorong utama. Pada April, RTX mendapat kontrak 3,7 miliar dolar AS untuk memasok rudal Patriot GEM-T ke Ukraina.
Meski pesanan ramai, saham sejumlah perusahaan pertahanan tidak semuanya menguat. RTX melemah, begitu pula Northrop dalam beberapa hari terakhir.
Perang memang membuat permintaan senjata naik. Namun, pesanan besar tidak otomatis berubah menjadi untung. Di belakangnya masih ada rantai pasok, uji terbang, sertifikasi, dan kapasitas produksi yang menentukan seberapa cepat perusahaan bisa memenuhi kontrak.