Bagikan:

JAKARTA - Inflasi Jepang kembali naik pada Maret. Harga energi menjadi penyebab utama, setelah minyak mentah melonjak akibat konflik Timur Tengah.

Disadur dari Kyodo News, Jumat, 24 April, harga konsumen inti Jepang naik 1,8 persen secara tahunan pada Maret. Angka ini lebih tinggi dari Februari yang sebesar 1,6 persen, menurut Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang.

Indeks harga konsumen inti tidak memasukkan harga pangan segar yang mudah berubah. Sementara itu, inflasi inti-inti, yang juga mengeluarkan energi dari perhitungan, naik 2,4 persen pada Maret. Angkanya sedikit melambat dari 2,5 persen pada Februari.

Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret, inflasi inti Jepang naik 2,7 persen. Salah satu pemicunya harga beras yang melonjak 48,9 persen, rekor tertinggi dalam periode laporan tersebut.

Tekanan harga sempat mereda pada Januari dan Februari setelah pajak bensin sementara berakhir pada 31 Desember. Namun, kenaikan harga minyak mentah kembali menahan penurunan itu.

Pada Maret, biaya energi turun 5,7 persen secara tahunan. Penurunannya lebih kecil dibanding Februari yang mencapai 9,1 persen. Harga bensin juga turun 5,4 persen, jauh lebih kecil dibanding penurunan 14,9 persen sebulan sebelumnya.

Pemerintah Jepang masih menahan lonjakan harga lewat subsidi. Bantuan diberikan kepada pedagang besar agar harga eceran bensin berada di sekitar 170 yen per liter. Sebelum subsidi, harga bensin sempat menyentuh rekor 190,80 yen per liter pada 16 Maret.

Masalahnya, Jepang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah. Lebih dari 95 persen impor minyak Jepang berasal dari kawasan itu.

Analis memperingatkan tekanan harga bisa melebar. Gangguan pasokan produk minyak setelah penutupan efektif Selat Hormuz membuat produsen mencari sumber alternatif. Produk minyak seperti nafta dipakai untuk membuat bahan kimia, plastik, hingga pasokan medis penting.

Yen yang melemah terhadap dolar AS juga berisiko membuat biaya impor makin mahal.

Kepala ekonom Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami, mengatakan kenaikan harga secara umum kemungkinan tetap tinggi jika penutupan selat berlangsung lama dan harga minyak terus naik.

“Dampaknya bisa meluas, termasuk kenaikan harga produk turunan minyak seperti plastik, biaya produksi pangan karena sulit mendapat pupuk, dan biaya logistik,” kata Minami dikutip Kyodo News.

Data inflasi ini akan menjadi bahan rapat kebijakan Bank of Japan mulai Senin. Bank sentral akan menimbang apakah suku bunga acuan perlu dinaikkan dari 0,75 persen untuk mengejar target inflasi 2 persen secara berkelanjutan.

Pasar memperkirakan Bank of Japan belum akan mengubah kebijakan dalam waktu dekat, selama Gubernur Kazuo Ueda belum memberi sinyal tegas di tengah ketidakpastian Timur Tengah.

Gangguan pasokan minyak berisiko merambat ke harga bensin, plastik, pupuk, logistik, dan barang sehari-hari di Jepang.