Israel Tuduh Hizbullah Meluncurkan Roket di Lebanon Selatan dan Melanggar Gencatan Senjata

JAKARTA - Militer Israel mengatakan Hizbullah menembakkan roket ke arah pasukan Israel di Lebanon selatan pada Hari Selasa, menuduh kelompok yang didukung Iran itu melanggar gencatan senjata menjelang pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat antara Pemerintah Israel dan Lebanon pekan ini.

Militer Israel mengatakan mereka telah menyerang peluncur roket yang digunakan untuk menembakkan roket tersebut, melansir Al Arabiya dari Reuters (22/4).

Tidak ada komentar langsung dari Hizbullah, yang mengatakan mereka memiliki "hak untuk melawan" pasukan Israel yang menduduki Lebanon selatan.

Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah Lebanon yang dimediasi oleh Washington mulai berlaku Kamis lalu, tetapi pasukan Israel tetap ditempatkan di sabuk tanah Lebanon sedalam 5-10 km di sepanjang perbatasan.

Israel mengatakan mereka bertujuan untuk menciptakan zona penyangga untuk melindungi Israel utara dari serangan Hizbullah.

Sementara itu, AS direncanakan menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat duta besar antara Israel dan Lebanon pada Hari Kamis. Lebanon terseret ke dalam perang pada 2 Maret ketika Hizbullah melepaskan tembakan untuk mendukung Teheran dalam konflik regional.

Ketua Parlemen Nabih Berri, negarawan Syiah paling senior di Lebanon dan sekutu Hizbullah, sebelumnya mengatakan kepada surat kabar al-Joumhouria, pasukan Israel yang menduduki sebagian wilayah selatan akan menghadapi perlawanan jika mereka tidak mundur.

Jika Israel "mempertahankan pendudukan mereka, baik berupa wilayah, posisi, atau dengan menggambar garis kuning, mereka akan mencium bau perlawanan setiap hari," kata Berri.

Militer Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sama-sama menyebut garis penempatan Israel di Lebanon sebagai "Garis Kuning" pekan lalu, istilah yang sama yang digunakan Israel untuk garis penempatan mereka di Gaza.

Para pejabat Israel sejak itu menahan diri untuk tidak menggambarkannya dengan istilah tersebut, melainkan menyebutnya sebagai "garis pertahanan depan" yang ditandai dengan warna merah dalam peta militer yang diterbitkan pada Hari Minggu, mancakup "area pertahanan depan angkatan laut" yang membentang dari pantai Lebanon ke laut.

Militer Israel sendiri melakukan penghancuran di desa-desa selatan sejak gencatan senjata, dengan mengatakan mereka bertindak melawan infrastruktur yang ditanamkan oleh Hizbullah di daerah sipil.

Kantor Berita Nasional (NNA) milik pemerintah Lebanon pada Hari Selasa melaporkan adanya ledakan baru yang dilakukan Israel di setidaknya delapan desa. NNA juga melaporkan penembakan artileri Israel di beberapa daerah.