Defisit Berpotensi Melebar, Celios Soroti Risiko APBN akibat Lonjakan Utang Negara

JAKARTA - Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyampaikan bahwa peningkatan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan memperbesar tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dalam hal kemampuan membayar utang.

Dia menambahkan bahwa saat ini, porsi pembayaran bunga utang dalam APBN telah mencapai sekitar 15 persen dengan bertambahnya utang, beban pembayaran bunga juga akan meningkat, terlebih saat memasuki masa jatuh tempo yang membuat beban APBN semakin berat.

"Untuk keseimbangan primer, Indonesia sudah negatif. Artinya, untuk membayar bunga utang, harus berutang dahulu. Tentu APBN tidak akan sehat dalam jangka menengah dan panjang," ujarnya kepada VOI, Jumat, 10 April.

Untuk mengatasi hal tersebut, Huda menekankan, pentingnya perbaikan defisit anggaran, dan upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan penerimaan negara dan/atau mengefisiensikan belanja pemerintah.

Meski demikian, menurutnya, penerimaan negara masih belum optimal di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

"Penerimaan negara nampaknya belum terlampau optimal. Masih banyak bolong sana sini dan ekonomi sedang tidak bagus," ucapnya.

Selain itu, Huda menyampaikan, belanja pemerintah justru meningkat seiring dengan pelaksanaan berbagai program prioritas yang menyerap anggaran besar.

"Ini yang harus diperbaiki untuk tidak memperlebar defisit anggaran dan mengerem utang," pungkasnya.