Wisata Emosional Jadi Tren Baru di China, Turis Tak Lagi Cuma Mengejar Pemandangan
JAKARTA - Pariwisata di China sedang berubah arah. Wisatawan kini tak lagi datang hanya untuk melihat tempat baru, tetapi juga mencari rasa, identitas, dan pengalaman yang terasa lebih pribadi. Pergeseran itu terlihat jelas di Desa Xunpu, Quanzhou, Provinsi Fujian, yang mendadak melesat menjadi magnet wisata.
Desa nelayan itu luasnya hanya 1,5 kilometer persegi dan dihuni kurang dari 8.000 orang. Namun pada 2024, Xunpu didatangi 8,5 juta wisatawan dan menghasilkan lebih dari 1,8 miliar yuan dari sektor pariwisata. Dalam laporan China Daily yang dikutip Kamis, 9 April, lonjakan itu dipicu hiasan kepala bunga tradisional yang sudah lama menjadi bagian dari budaya perempuan setempat.
Kerajinan tersebut sebenarnya sudah masuk daftar warisan budaya takbenda China sejak 2008. Namun tradisi itu lama berjalan tenang, sampai akhirnya meledak di media sosial pada 2023. Banyak perempuan muda datang ke Xunpu khusus untuk mengenakan hiasan itu dan berfoto.
Menurut Green Book of China’s Tourism yang dikutip China Daily, ledakan ini bukan semata soal tren visual. Hiasan kepala itu dinilai menawarkan nilai emosional yakni gagasan tentang kecantikan, kedekatan dengan masa lalu, dan pengalaman yang terasa lebih otentik. Dari sini, wisata di China mulai bergeser dari sekadar tamasya menjadi pencarian makna.
Baca juga:
Pemimpin redaksi Green Book, Song Rui, menyebut perubahan itu muncul saat China memasuki periode Rencana Lima Tahun ke-15 pada 2026-2030. Untuk pertama kalinya, rencana tersebut memasukkan target menjadikan China sebagai kekuatan besar di bidang pariwisata. Itu menunjukkan pariwisata kini dipandang bukan hanya sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga alat penyebaran budaya, inovasi teknologi, dan inklusi sosial.
Perubahan itu juga terlihat di lapangan. Orang kini bepergian untuk menonton konser, festival, dan pertandingan olahraga, bukan cuma mencari hiburan, tetapi juga kepuasan emosi. Destinasi pun bergeser. Kota kecil dan wilayah tingkat kabupaten makin diminati karena dianggap lebih asli dan lebih bernilai.
Laporan itu mencatat, selama libur Hari Nasional 2025, lebih dari 40 persen wisatawan perkotaan memilih tujuan tingkat kabupaten. Sementara penduduk pedesaan mencakup 22 persen dari lebih dari 100 juta wisatawan domestik. Fenomena ini disebut sebagai arus dua arah antara pasar kota dan desa.
Pariwisata China juga makin menyatu dengan budaya, olahraga, teknologi, dan ruang komersial. Banyak situs warisan tak lagi berhenti sebagai tempat yang dikunjungi, tetapi berkembang menjadi pengalaman utuh, lengkap dengan tempat makan bertema, pertunjukan, belanja, dan perluasan digital.
Wisatawan asing juga ikut berubah. Menurut Song, mereka kini tak lagi puas hanya datang ke Kota Terlarang atau Tembok Besar. Banyak yang ingin merasakan China dari dekat yakni masuk pasar lokal, membeli jajanan kaki lima, hingga datang ke pemandian umum di kawasan permukiman.
Teknologi ikut mempercepat perubahan itu. Green Book mencatat kecerdasan buatan generatif kini dipakai untuk membuat layanan wisata yang makin personal, mulai dari video perjalanan khusus hingga pendamping virtual yang menyesuaikan suasana hati wisatawan.
Perubahan ini menunjukkan cara orang berwisata di China sedang bergeser. Tak cukup lagi hanya datang dan melihat, wisatawan kini juga ingin merasa lebih dekat dengan tempat yang mereka datangi.