Insentif Pajak hingga 300 Persen Disiapkan buat Pengembangan Riset dan Teknologi Semikonduktor

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan insentif pajak untuk mendukung penguatan riset dan pengembangan teknologi semikonduktor di Tanah Air.

Menurut dia, insentif tersebut diberikan untuk mendorong kolaborasi lebih erat antara sektor industri dengan perguruan tinggi, khususnya dalam kegiatan penelitian, pengembangan teknologi serta penguatan talenta di bidang teknologi semikonduktor.

"Insentif pajak sudah ada terkait dengan R&D maupun pendidikan, yang mana pemerintah bisa memberikan tax deduction kepada corporate yang bekerjasama dengan perguruan tinggi, besarnya dari 200 sampai 300 persen," ujar Airlangga dalam acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Menara Batavia, Jakarta, Kamis, 5 Maret.

Airlangga menyebut, pengembangan industri semikonduktor membutuhkan dukungan ekosistem kuat, termasuk keterlibatan dunia pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia serta riset relevan dengan kebutuhan industri.

Dalam hal ini, Airlangga menilai, peran perguruan tinggi dan kementerian terkait menjadi penting untuk menjembatani kolaborasi antara industri dengan institusi pendidikan agar fasilitas insentif tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Nah, ini dari dirjen dikti bisa juga menjembatani antara industri dengan perguruan tinggi sekaligus menteri keuangan, karena terkait tax deduction itu peran menteri keuangan sangat besar," katanya.

Pemerintah mendorong agar berbagai fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat riset, pengembangan teknologi serta penguasaan kemampuan desain dan produksi semikonduktor di Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung upaya Indonesia membangun ekosistem teknologi tinggi serta meningkatkan daya saing industri nasional.

Adapun, kata Airlangga, saat ini terdapat pembahasan mengenai proyek khusus atau special project antara Pemerintah RI dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Limited.

Dia menjelaskan, proyek tersebut berada di luar program pelatihan 15.000 insinyur bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang penandatanganan kontraknya telah disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto di London, Inggris, Februari lalu.

"(Special project) di luar 15.000 (engineer). Tetapi ini adalah fase berikutnya, kami masih dalam negosiasi. Karena itu kami belum bisa discuss," tutur Airlangga saat ditemui di sela acara.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menambahkan, nilai proyek khusus tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 juta dolar AS. "Ada kira-kira (nilainya) 200 juta dolar AS," katanya.

Dalam proyek tersebut, Airlangga menegaskan, Arm akan berfokus pada pengembangan perangkat lunak dan desain, bukan manufaktur.

"Jadi Arm itu arahnya selalu ke software, ke arah desain. Kalo pabrikan itu, ya, TSMC, Nvidia. Jadi, itu pendekatan berbeda yang didekati oleh pemerintah," ujarnya.