RI Jajaki Proyek Semikonduktor Khusus dengan Perusahaan Inggris, Nilainya 200 Juta Dolar AS
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap, saat ini terdapat pembahasan mengenai proyek khusus atau special project antara Pemerintah RI dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Limited.
Airlangga menjelaskan, proyek tersebut berada di luar program pelatihan 15.000 insinyur bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang penandatanganan kontraknya telah disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto di London, Inggris, Februari lalu.
"(Special project) di luar 15.000 (engineer). Tetapi ini adalah fase berikutnya, kami masih dalam negosiasi. Karena itu kami belum bisa discuss," ucap Airlangga saat ditemui di sela acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Menara Batavia, Jakarta, Kamis, 5 Maret.
Dia menambahkan, nilai proyek itu diperkirakan mencapai sekitar 200 juta dolar AS. "Ada kira-kira (nilainya) 200 juta dolar AS," katanya.
Dalam proyek tersebut, Airlangga menegaskan, Arm akan berfokus pada pengembangan perangkat lunak dan desain, bukan manufaktur.
"Jadi Arm itu arahnya selalu ke software, ke arah desain. Kalo pabrikan itu, ya, TSMC, Nvidia. Jadi, itu pendekatan berbeda yang didekati oleh pemerintah," ujarnya.
Kemudian, Airlangga menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan Arm turut menekankan pentingnya membangun ekosistem bioteknologi. Bidang tersebut dinilai terkait dengan konvergensi teknologi yang mencakup nano, bio, informasi dan kognitif, yang disebut sebagai fondasi revolusi industri berikutnya.
"Nah, semikonduktor adalah otak dari seluruh teknologi modern karena ini meliputi sensor, control. Satu kendaraan EV itu minimal jumlah semikonduktornya lebih dari 200," lanjutnya.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menyebut, permintaan global terhadap semikonduktor diperkirakan akan terus meningkat dan mencapai nilai 1 triliun dolar AS pada 2030, didorong oleh kebutuhan pusat data, AI, komputasi kuantum, komunikasi nirkabel serta elektronik otomotif.
Baca juga:
"Di saat sama ekonomi digital diperkirakan secara dunia 16 triliun dan tentu bagi Indonesia ini namanya re-entering the ring," terang dia.
Menurut Airlangga, Indonesia perlu kembali masuk dalam rantai industri semikonduktor global, mengingat RI pernah terlibat dalam industri ini pada era 1980-an bersama Fairchild.
Namun, kehilangan momentum ketika memilih untuk tidak mengadopsi otomatisasi, sehingga investasi berpindah ke Malaysia.
Saat ini, Malaysia telah memiliki sekitar 200 perusahaan dalam ekosistem semikonduktor dan menjadi salah satu terkuat di ASEAN, disusul Vietnam dan Singapura. "Dan bagi semikonduktor Malaysia juga mereka dapat special treatment untuk masuk ke pasar Amerika," tuturnya.
Adapun di dalam negeri, Airlangga menyoroti Indonesia memiliki jumlah pengguna internet terbesar di ASEAN, yakni sekitar 230 juta orang, dengan tingkat penetrasi telepon seluler mencapai 116 persen.
"Dan kami tidak boleh hanya menjadi pasar bagi industri digitalisasi," jelas dia.