“Chinamaxxing” Mendongkrak Pariwisata Tiongkok, Turis Indonesia Masuk Daftar Terbanyak saat Festival Musim Semi
JAKARTA - Tren media sosial “menjadi orang Tiongkok” atau Chinamaxxing di kalangan Generasi Z Barat ikut mendongkrak pariwisata Tiongkok. Data sejumlah platform perjalanan menunjukkan lonjakan wisatawan mancanegara ke daratan Tiongkok untuk merasakan atmosfer Festival Musim Semi, dan ternyata Indonesia masuk dalam daftar negara asal turis terbanyak.
Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek jatuh pada 17 Februari tahun ini, dengan libur sembilan hari mulai 15 Februari. Perayaan yang identik dengan reuni keluarga dan tradisi itu kini menjadi magnet bagi pelancong asing yang ingin merasakan pengalaman budaya secara langsung.
Laporan portal perjalanan Springtour.com, dikutip dari China Daily, menyebut jumlah wisatawan inbound yang diperkirakan memakai platform tersebut selama libur Festival Musim Semi naik dua kali lipat dibanding tahun lalu per 27 Januari.
Agen perjalanan daring Qunar melaporkan, pemesanan penerbangan oleh pemegang paspor non-Tiongkok menuju destinasi di daratan Tiongkok selama masa libur meningkat 30 persen dibanding tahun lalu hingga akhir Januari. Mayoritas pelancong berasal dari Korea Selatan, Vietnam, Singapura, Australia, dan Indonesia.
Qunar juga mencatat arus wisatawan dari Eropa dan Amerika Selatan ikut meningkat. Bahkan, jumlah pengunjung dari Argentina yang merayakan Festival Musim Semi di daratan Tiongkok disebut melonjak sembilan kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Baca juga:
Kota besar seperti Shanghai dan Beijing masih menjadi tujuan utama. Namun kota yang lebih jarang disorot—seperti Guilin (Daerah Otonom Zhuang Guangxi) dan Datong (Provinsi Shanxi)—kini makin diminati wisatawan luar negeri.
Evan Kail, wisatawan asal Amerika Serikat yang berkeliling daratan Tiongkok sejak 15 Januari, mengaku terkesan dengan perayaan yang semarak. “Ini satu musim penuh, bukan sekadar satu hari,” katanya seperti dilansir China Daily, Rabu (18/2). Ia menyebut jamuan malam Tahun Baru dan pemasangan kuplet atau chunlian, dua kalimat harapan yang ditempel di pintu, sebagai pengalaman yang paling membekas.
Arja Dutta dari India, yang mengenal Festival Musim Semi sejak 2019, juga menyebut momen itu sebagai waktu terbaik untuk merasakan budaya Tiongkok yang autentik.
Peneliti pariwisata Zhang Jinshan dari Beijing Union University menilai Festival Musim Semi sebagai simbol inti budaya tradisional Tiongkok. Ia menyinggung pencatatan Festival Musim Semi oleh UNESCO pada 2024, serta kebijakan Tiongkok yang dioptimalkan terkait visa, pembayaran, dan pengembalian pajak, yang disebut mempercepat pemulihan pasar wisatawan inbound dalam beberapa tahun terakhir.