Antara Netralitas dan Realitas Alutsista

JAKARTA - Isu kemungkinan meletusnya Perang Dunia III kerap terasa jauh dari Indonesia. Memang letak geografis yang relatif aman, politik luar negeri bebas aktif, serta tradisi non-blok membuat Indonesia seolah berada di luar pusaran konflik global. Memanaskan dunia akibat sikap arogansi presiden Trump, yang berlaku seolah Raja Perancis Louis XIV, yang seolah hukum adalah saya.

Oleh karena itu Susilo Yudhoyono, mencemaskan ancaman terjadinya Perang Dunia Ketiga membayangi kondisi global saat ini. Kekhawatiran akan pecahnya konflik global turut dirasakan oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Pakar Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana menilai organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tidak berdaya menghalangi ambisi Trump yang berpotensi merusak tatanan dunia. Itulah yang dikhawatirkan pecahnya perang dunia III.

Namun sejarah mengajarkan, perang dunia tak pernah sepenuhnya menghormati batas geografis. Ketika rivalitas global memanas, pertanyaan krusial pun muncul: seberapa siap Indonesia, khususnya dari sisi alutsista?

Secara kuantitatif, Indonesia memiliki kekuatan militer yang tidak kecil di kawasan. TNI Angkatan Darat didukung ratusan tank tempur, artileri medan dan roket, serta pasukan infanteri yang besar. TNI Angkatan Laut memiliki kapal perang berbagai kelas—fregat, korvet, kapal selam—yang dirancang menjaga jalur laut strategis Nusantara.

Pesawat tempur KF-21 Boramae antara Indonesia dan Korea Selatan (dok Kemenhan)

Sementara TNI Angkatan Udara diperkuat jet tempur generasi 4 dan 4,5 seperti F-16, Sukhoi, dan Rafale yang mulai datang bertahap. Di atas kertas, ini memberi kesan kesiapan yang memadai, dan Indonesia berangsur meningkatkan kekuatan persenjataan.

Namun kesiapan menghadapi perang modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah alutsista, melainkan oleh integrasi sistem, kesiapan tempur, dan keberlanjutan logistik. Di titik inilah tantangan Indonesia terlihat jelas. Sebagian alutsista masih berusia tua, hasil akuisisi lintas negara dengan sistem berbeda-beda, sehingga menyulitkan interoperabilitas. Ketergantungan pada suku cadang impor juga menjadi kerentanan serius jika konflik global memutus rantai pasok internasional.

Dalam konteks Perang Dunia III, yang kemungkinan besar bersifat perang hibrida dan berteknologi tinggi, tantangan Indonesia semakin kompleks. Ancaman tidak lagi datang semata dalam bentuk invasi fisik, tetapi melalui serangan siber, disrupsi satelit, blokade ekonomi, hingga perang informasi.

Di ranah ini, alutsista konvensional seperti tank dan kapal perang tidak selalu menjadi penentu utama. Kesiapan sistem pertahanan siber, radar terpadu, pertahanan udara berlapis, dan kemampuan intelijen justru menjadi kunci.

Menurut Mantan KSAU, Dari Perang antara Israel-Iran, kita perlu segera menata diri, tentang penguasaan Langit Indonesia suatu saat bisa membara, "wilayah kedaulatan udara. Itu memberi pesan bahwa wilayah udara harus dijaga" katanya.

KRI Prabu Siliwangi-321 (ANTARA/Ho-Humas TNI AL)

Indonesia sejauh ini masih lebih siap untuk pertahanan teritorial dan konflik intensitas rendah–menengah, bukan perang global bereskalasi tinggi. Doktrin pertahanan semesta memberi keunggulan pada daya tahan nasional, tetapi belum sepenuhnya diimbangi oleh modernisasi alutsista berbasis teknologi mutakhir dan industri pertahanan yang benar-benar mandiri.

Dengan demikian, kesiapan Indonesia menghadapi kemungkinan Perang Dunia III bukan terletak pada ambisi ikut berperang, melainkan pada kemampuan bertahan, menjaga kedaulatan, dan mencegah wilayahnya menjadi ajang konflik. Alutsista Indonesia cukup untuk menunjukkan daya gentar (deterrence) di kawasan, tetapi belum dirancang untuk terlibat langsung dalam perang global.

Pada akhirnya, senjata terkuat Indonesia mungkin bukan jumlah jet tempur atau kapal selamnya, melainkan kombinasi diplomasi aktif, posisi geopolitik strategis, dan kemampuan bertahan nasional. Perang dunia, jika benar terjadi, akan menguji bukan hanya besi dan mesin, tetapi juga arah kebijakan: apakah Indonesia mampu tetap berdiri sebagai negara berdaulat di tengah badai global, tanpa terseret menjadi pion kekuatan besar.

Menurut seorang Guru besar bidang hubungan Internasional, Connie Rahakundini Bakrie, Konflik di Timur Tengah nampaknya semakin memanas! Paling baru terdapat penyerangan AS & Inggris ke Yaman, khususnya Houthi. Namun tidak sampai disitu, Houthi sudah mulai membela diri dengan menyerang kapal AS & Inggris.

Israel-Iran saling balas, Timur Tengah menyala & panas. Amerika join perang bikin situasi makin awas. Di atas kertas, jejak perang dunia III semakin jelas. Menggema protes keras, dunia khawatir perang meluas. Sebelumnya respon mayoritas warga dunia tak biasa. Mereka bersorak saat rudal Iran membuat Israel porak poranda.

Namun Tel Aviv di-Gaza-kan & merasakan derita Palestina. Gencatan senjata diberlakukan sementara waktu. Dianggap bakal jadi penentu, bagaimana reaksi para sekutu?. Pertemuaan antara Trump dan presiden Xi Jinping semoga bisa meredakan konflik dan ketegangan.