Kartunis Sepak Bola Asal Iran Sempat Dikabarkan Menghilang, terkait Kerusuhan?
JAKARTA - Kartunis sepak bola asal Iran, Hamid Sahari, sempat diisukan menghilang selama kerusuhan pecah di Teheran, Ibu Kota Iran, sejak akhir 2025.
Namun, melihat aktivitasnya di media sosial, tempat membagikan karyanya, isu tersebut dengan sendirinya terbantah.
Berdasarkan hasil pencarian terbaru pada akhir 2025 hingga Januari 2026, Hamid Sahari masih aktif membuat video meme sepak bola, terutama di Instagram, TikTok, dan Facebook.
Dia masih terlihat membahas topik seperti perkembangan sepak bola terkini sepanjang 2025 dan persiapan Piala Dunia 2026. Hanya saja, tidak ada yang tahu alasan mengapa dia mulai jarang mengunggah animasinya di media sosial.
Ada pendapat yang menyebut bahwa kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh perubahan algoritma media sosial, jeda waktu di antara pertandingan sepak bola besar, atau sedang fokus pada konten yang lebih panjang daripada Shorts/Reels singkat.
Baca juga:
Terakhir kali dia mengunggah karya animasinya pada awal Januari 2026 di Instagram. Unggahan itu berisi rangkuman cerita sepak bola menarik pada 2025.
"Sekilas tentang tahun 2025. Semoga tahun baru ini menjadi tahun terbaik dan terindah dalam hidupmu, dengan semua impianmu menjadi kenyataan," tulis Sahari mengiringi animasinya.
Namun, hingga kini belum ada pembaruan konten, baik di Instagram dan TikTok @hamidsahari, maupun YouTube @hamidsahari-football1 dan Facebook. Tak sedikit yang menduga bahwa Sahari kesulitan dalam mengunggah karyanya di media sosial karena pemadaman internet di Iran.
Sebagaimana diketahui, kerusuhan sosial di Iran terbilang mengerikan antara aparat dan demonstran. Rangkaian protes dari demonstran dimulai pada 28 Desember 2025 terkait masalah ekonomi.
Seiring berjalannya waktu, demo telah berubah menjadi seruan untuk mengakhiri kekuasaan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Pemerintah Iran menyebut demonstrasi tersebut sebagai kerusuhan yang didukung oleh musuh-musuh Iran.
Para pengunjuk rasa telah menghadapi kekerasan mematikan. Adapun video pasukan keamanan yang menembak demonstrasi telah diverifikasi oleh BBC Persian dan BBC Verify.
Hingga pekan kemarin, menurut Reuters, sekitar 5.000 orang termasuk 500 personel keamanan tewas dalam insiden tersebut.
Sementara Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan jumlah korban tewas mencapai 3.308 orang, dengan 4.382 kasus lainnya masih ditinjau. HRANA juga menyebut telah mengonfirmasi lebih dari 24.000 penangkapan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi Pemerintah Iran yang menyebutkan jumlah korban dalam demonstrasi tersebut.
Akibat insiden tersebut, pemadaman internet diberlakukan yang membuat sangat sulit untuk mendapatkan informasi yang jelas.
Hampir seluruh layanan internet dan komunikasi di Iran mengalami pemadaman total. Pada Sabtu, 17 Januari 2026, konektivitas internet baru mencapai sekitar 2 persen dari tingkat normal, menurut pemantau siber NetBlocks.
Sementara itu, Pemerintah Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan serangan atau campur tangan dalam gelombang kerusuhan nasional yang mengguncang negara tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan setiap agresi dari Washington akan dibalas keras oleh Teheran.
Peringatan ini muncul di tengah tekanan internasional yang meningkat atas penanganan protes di Iran, yang awalnya dipicu keluhan ekonomi dan kemudian berkembang menjadi tuntutan politik untuk mengakhiri pemerintahan ulama.
Protes yang bermula di Grand Bazaar Teheran itu menyebar ke berbagai wilayah dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.