Sekjen PBB Guterres Prihatin dengan Laporan Kekerasan di Iran
JAKARTA - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Hari Minggu mendesak otoritas Iran untuk menunjukkan "pengekangan maksimal" dan menghindari penggunaan kekuatan yang "tidak perlu atau tidak proporsional" terhadap para demonstran.
"Sekretaris Jenderal terkejut dengan laporan kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh otoritas Iran terhadap para demonstran di berbagai lokasi di seluruh Republik Islam Iran, yang mengakibatkan puluhan kematian," kata juru bicara Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan, melansir Anadolu (12/1).
Lebih lanjut ia mengatakan, Sekjen Guterres menekankan semua warga Iran harus dapat menyampaikan "keluhan" mereka secara damai tanpa rasa takut, dengan menyatakan bahwa hak atas kebebasan berekspresi, berasosiasi, dan berkumpul secara damai yang diabadikan dalam hukum internasional harus "sepenuhnya dihormati dan dilindungi."
Sekretaris Jenderal PBB juga menyerukan langkah-langkah yang memungkinkan akses informasi di negara tersebut, termasuk memulihkan komunikasi.
Diketahui, protes meletus pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran terkait depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi, yang kemudian menyebar ke beberapa kota.
Kelompok pemantau internet yang berbasis di London, NetBlocks, mengatakan pada Hari Minggu Iran telah mengalami pemadaman internet selama lebih dari 72 jam karena negara tersebut memasuki hari keempat pemadaman internet nasional.
Baca juga:
- Faksi-faksi Palestina Diperkirakan akan Selesaikan Pembentukan Komite Gaza di Kairo Pekan Ini
- Presiden Trump Direncanakan Mendapat Pengarahan Mengenai Iran Hari Selasa
- Inggris Umumkan Pengembangan Rudal Balistik Baru untuk Ukraina
- Iran Ancam Serang Pangkalan dan Kapal AS Jika Ikut Campur Dalam Protes Atas Nama Demonstran
Sementara itu, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap, meskipun belum ada perkiraan resmi jumlah korban.