Bagikan:

JAKARTA - Iran mengancam akan menyerang target militer Amerika Serikat jika ikut campur dalam protes yang berlangsung di negara itu atas nama demonstran.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran.

Menanggapi itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Washington agar tidak melakukan "kesalahan perhitungan."

"Mari kita perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita," tegas Qalibaf, mantan komandan di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melansir Al Arabiya dari Reuters (12/1).

Protes pecah di Iran pada 28 Desember sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga yang melonjak, anjloknya nilai tukar rial Iran terhadap dolar AS, sebelum kemudian berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.

Pihak berwenang Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel memicu kerusuhan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam wawancara televisi mengatakan Israel dan AS adalah dalang destabilisasi, dengan musuh-musuh Iran telah membawa masuk "teroris yang membakar masjid, menyerang bank, dan properti publik."

"Keluarga-keluarga, saya mohon kepada Anda: jangan biarkan anak-anak kecil Anda bergabung dengan para perusuh dan teroris yang memenggal kepala orang dan membunuh orang lain," katanya, menambahkan pemerintah siap mendengarkan rakyat dan menyelesaikan masalah ekonomi.

Terpisah, tiga sumber Israel, yang hadir dalam konsultasi keamanan Israel selama akhir pekan, mengatakan Israel berada dalam siaga tinggi untuk kemungkinan intervensi AS.

Seorang pejabat militer Israel mengatakan protes tersebut adalah masalah internal Iran, tetapi militer Israel memantau perkembangan dan siap untuk merespons "dengan kekuatan jika perlu."

Diketahui, Israel dan Iran terlibat perang selama 12 hari pada Juni tahun lalu, yang sempat diikuti oleh Amerika Serikat dengan menyerang instalasi nuklir utama. Iran membalas dengan menembakkan rudal ke Israel dan pangkalan udara Amerika di Qatar.

Meskipun otoritas Iran telah mengatasi protes-protes sebelumnya, protes terbaru ini terjadi ketika Teheran masih berupaya pulih dari perang tahun lalu dan posisi regionalnya melemah akibat pukulan terhadap sekutu-sekutunya seperti Hizbullah Lebanon sejak serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.