Bagikan:

JAKARTA - Protes yang berkembang menjadi kerusuhan di Iran telah menewaskan lebih dari 500 orang, kata sebuah kelompok hak asasi manusia pada Hari Minggu.

Menurut angka terbaru - dari aktivis di dalam dan luar Iran - kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, mengatakan telah memverifikasi kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap dalam dua minggu kerusuhan, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (12/1).

Iran belum memberikan angka resmi terkait korban tewas dan Reuters tidak dapat memverifikasi angka tersebut secara independen.

Sementara itu, Teheran mengancam akan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat jika Presiden Donald Trump melaksanakan ancamannya untuk campur tangan atas nama para demonstran.

Dengan rezim ulama Republik Islam menghadapi demonstrasi terbesar sejak 2022, Presiden Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika kekerasan digunakan terhadap para demonstran.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan Washington agar tidak melakukan "kesalahan perhitungan."

protes iran
Pemakaman korban tewas akibat protes di Iran. (Wikimedia Commons/Tasnim News Agency/Farza Menati)

"Mari kita perjelas: jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kita," tegas Qalibaf, mantan komandan di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Rekaman yang diunggah di media sosial pada Hari Sabtu dari Teheran menunjukkan kerumunan besar berbaris di sepanjang jalan pada malam hari, bertepuk tangan dan meneriakkan slogan. Kerumunan itu "tidak ada ujung maupun awal," terdengar suara seorang pria mengatakan.

Dalam rekaman dari Kota Mashhad di timur laut, asap terlihat mengepul ke langit malam dari kebakaran di jalan, demonstran bertopeng, dan jalan yang dipenuhi puing-puing, seperti yang ditunjukkan video lain yang diunggah pada Hari Sabtu. Ledakan terdengar. Reuters memverifikasi lokasi tersebut.

Televisi pemerintah menayangkan rekaman puluhan kantong mayat di tanah di kantor koroner Teheran pada hari Minggu, dengan mengatakan bahwa korban tewas adalah korban dari peristiwa yang disebabkan oleh "teroris bersenjata."

Di sisi lain, televisi pemerintah Iran menyiarkan prosesi pemakaman di kota-kota barat seperti Gachsaran dan Yasuj untuk personel keamanan yang tewas dalam protes.

Televisi pemerintah mengatakan 30 anggota pasukan keamanan akan dimakamkan di Kota Isfahan di bagian tengah dan enam lainnya tewas oleh "perusuh" di Kermanshah di bagian barat.

Diketahui, protes pecah pada 28 Desember sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga yang melonjak, sebelum kemudian berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.

Pihak berwenang menuduh AS dan Israel memicu kerusuhan.

Arus informasi dari Iran terhambat oleh pemadaman internet sejak Kamis.