LNSW Ungkap Dwelling Time Naik Saat Libur Panjang Bukan karena Kegagalan Sistem Logistik
JAKARTA — Lembaga National Single Window (LNSW) mengakui bahwa libur panjang dan cuti bersama keagamaan menjadi tantangan utama dalam menurunkan angka dwelling time, yakni waktu barang berada di pelabuhan.
Kepala LNSW Oza Olavia menyampaikan bahwa fluktuasi dwelling time sulit dihindari, terutama ketika aktivitas logistik melambat akibat pembatasan operasional truk selama hari raya.
Menurutnya, hal ini menjadi penyebab utama rata-rata dwelling time nasional sempat melampaui target, meski pada bulan-bulan normal kinerjanya tetap stabil.
"Kalau misalnya libur panjang banget, biasanya ada holiday atau Lebaran. Kebetulan Lebaran kemarin kita liburnya dua minggu, pelabuhan tidak boleh di-open (untuk truk), itu otomatis akan ada penumpukan di pelabuhan," ujarnya dalam Media Gathering, Kamis, 4 Desember.
Oza menekankan bahwa lonjakan dwelling time pada hari raya termasuk dalam kondisi ekstrem sehingga perlu dijelaskan kepada publik, bukan akibat kegagalan sistem logistik.
Berdasarkan data LNSW menunjukkan tren dwelling time yang dinamis, yaitu hingga Oktober 2025, rata-rata dwelling time tercatat 2,93 hari, sedikit di atas target pemerintah 2025 sebesar 2,87 hari.
Meski begitu, jika dilihat secara bulanan, indeks dwelling time Oktober 2025 menunjukkan perbaikan menjadi 2,47 hari.
"Biasanya tahun itu paling tinggi adalah pada saat bulan Lebaran. Libur kemarin sangat panjang, ada tambahan cuti bersama lagi. Tapi kalau libur lain hampir semua di bawah 2,87 hari, bahkan hampir semua di bawah 2 hari," tambahnya.
Dia menyampaikan perbaikan ini menunjukkan efektivitas integrasi sistem dalam ekosistem ekspor-impor nasional melalui Sistem Indonesia National Single Window (SINSW).
"Jadi ini untuk yang dwelling time sangat dipengaruhi banyak hal, karena ini disini berperan hampir banyak sekali kepentingan lembaga terkait," katanya.
Selain itu, perbaikan juga didukung penerapan National Logistics Ecosystem (NLE), yang hingga 2025 telah diterapkan di 63 pelabuhan dan 7 bandara di seluruh Indonesia.
Berdasarkan survei Prospera 2024 menunjukkan beberapa layanan digital dalam NLE mampu meningkatkan efisiensi waktu hingga 66,5 persen dan efisiensi biaya hingga 77,94 persen, terutama pada layanan Single Submission (SSm) Perizinan dan Quarantine Customs
LNSW menilai tren ini penting untuk mendukung optimalisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena kelancaran arus barang berpengaruh langsung terhadap perdagangan dan penerimaan negara.
Melalui SINSW, LNSW telah mengintegrasikan sistem dari 29 kementerian/lembaga dan menghubungkan Indonesia dengan mitra internasional, baik dalam kerangka ASEAN maupun kerja sama bilateral.
"Jadi salah satu yang kami harapkan terus bagaimana setiap kebijakan yang diambil dengan adanya pengelolaan dan integrasi yang baik, ini bisa lebih memberikan manfaat lebih," tuturnya.
Dia juga meminta publik memahami karakteristik logistik Indonesia secara menyeluruh dan tidak membandingkannya langsung dengan Singapura.
Oza menjelaskan, Indonesia adalah negara tujuan dan asal barang (destination/origin), sehingga proses bongkar muat terjadi sepenuhnya untuk konsumsi dan produksi domestik, berbeda dengan Singapura, yang sebagian besar berfungsi sebagai hub transhipment.
Baca juga:
Dia menambahkan, LNSW terus memperluas implementasi NLE untuk menekan inefisiensi dalam proses logistik.
"Beda kalau kita cocokkan sama Singapura, bisa rendah banget cuma satu hari sebentar, karena dia tidak bongkar di sana, dia transit-transhipment. Kita benar-benar bongkar muat. Itulah kenapa dalam melihat dwelling time kita harus melihat tipikal ekspor logistik suatu negara," tuturnya.