Toyota Putuskan Tunda Pembangunan Pabrik Mobil Listrik di Jepang
JAKARTA – Produsen otomotif asal Jepang, Toyota, dilaporkan kembali menunda pembangunan pabrik kendaraan listrik di Prefektur Fukuoka, Jepang. Keputusan ini mencerminkan sikap hati-hati perusahaan dalam membaca kondisi pasar kendaraan listrik global yang tengah mengalami perlambatan.
Melansir dari Electrive, Selasa, 12 November, penundaan tersebut merupakan yang kedua untuk proyek pabrik mobil listrik di Fukuoka. Awalnya, pembangunan fasilitas ini dijadwalkan segera dimulai dan diharapkan beroperasi pada 2028.
Namun, kini jadwal tersebut diundur hingga waktu yang belum ditentukan. Toyota diketahui telah menggelontorkan sekitar 6 miliar yen sebagai persiapan lahan untuk lokasi pabrik tersebut.
Sumber internal menyebut, permintaan global terhadap kendaraan listrik masih belum sesuai dengan harapan perusahaan. Sebagian besar penjualan kendaraan elektrifikasi Toyota masih didominasi oleh model hibrida, sementara mobil listrik murni (BEV) kontribusinya masih relatif kecil.
Baca juga:
Gubernur Prefektur Fukuoka Seitaro Hattori, menyatakan bahwa perjanjian lokasi yang sebelumnya dijadwalkan ditandatangani pada April kini dihapuskan hingga musim gugur. Meski begitu, belum ada kepastian apakah target operasional pabrik pada 2028 akan ikut tertunda lebih lama.
Toyota menegaskan bahwa meski proyek ini tertunda, rencana pembangunan tetap akan dilanjutkan. Perusahaan kini tengah meninjau ulang jenis kendaraan yang akan diproduksi serta kapasitas produksi yang sesuai dengan kondisi pasar.
Dalam semester pertama tahun fiskal 2026, Toyota dan merek mewahnya, Lexus, telah menjual sekitar 5,2 juta kendaraan secara global, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,47 juta unit merupakan kendaraan elektrifikasi, termasuk hibrida.
Langkah penundaan ini menegaskan bahwa meskipun Toyota terus berinvestasi di sektor kendaraan listrik, perusahaan memilih pendekatan yang lebih realistis. Fokus mereka kini lebih banyak diarahkan pada pengembangan teknologi hibrida serta strategi produksi yang lebih fleksibel untuk menghadapi perubahan cepat di pasar global.
Penyebab utama dibalik keputusan ini disebut berasal dari kondisi pasar kendaraan listrik yang masih terlalu dinamis dan sulit diprediksi. Terutama, terkait preferensi konsumen serta perkembangan teknologi baterai.