P3M Luncurkan Buku Jihad Santri Merawat Bumi: 10 Kisah Inspiratif Pengelolaan Sampah di Pesantren

JAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Santri 2025, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) meluncurkan buku berjudul “Jihad Santri Merawat Bumi: 10 Kisah Inspiratif Pengelolaan Sampah di Pesantren.” Peluncuran buku ini menjadi penanda bahwa gerakan santri kini tidak hanya berperan dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Buku ini merekam sepuluh kisah nyata dari pesantren di berbagai daerah yang berhasil mengelola sampah secara kreatif dan mandiri. Lebih dari sekadar kumpulan cerita inspiratif, buku ini menjadi narasi penting tentang kebangkitan gerakan akar rumput yang muncul dari komunitas pesantren di tengah krisis sampah nasional.

Menurut Direktur P3M KH Sarmidi Husna, konsep “jihad” dalam konteks ini tidak lagi dimaknai sebagai konflik bersenjata, melainkan perjuangan sungguh-sungguh untuk merawat bumi. “Landasan program ini adalah kaidah fikih ad-dhararu yuzaalu, yang berarti setiap kemudaratan harus dihilangkan. Sampah yang tidak terkelola adalah bentuk madharat karena menyebabkan penyakit, pencemaran, dan kerusakan sosial. Maka pengelolaan sampah menjadi bagian dari kewajiban agama,” jelas Kiai Sarmidi dalam sambutannya.

Ia menambahkan, makna jihad harus dihadirkan secara konstruktif, pro-sosial, dan berwawasan ekologis. “Ini bukan sekadar tugas duniawi, tapi juga mandat ukhrawi. Santri memiliki otoritas moral untuk menjadi pelopor perubahan dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.

Gerakan Santri Merawat Bumi dan Ekoteologi

Kiai Sarmidi menjelaskan bahwa santri memiliki tiga prinsip hidup utama. Pertama, komitmen menjalankan fardhu ain, seperti perjuangan santri dalam melawan penjajah pada masa lalu. Kedua, komitmen meninggalkan dosa besar. Ketiga, menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia (hablun minallah wa hablun minannas).

“Sekarang saatnya santri berjihad bukan melawan penjajah, tetapi berjihad merawat bumi. Ini adalah tantangan baru umat Islam di era modern,” tegasnya.

Lebih jauh, P3M ingin membumikan konsep ekoteologi agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Ekoteologi bukan hanya wacana seminar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa keadilan ekologi,” tambahnya.

Kolaborasi dengan CCEP Indonesia

Buku Jihad Santri Merawat Bumi merupakan bagian dari program GELAR BUMI (Gerakan Santri Merawat Bumi) — hasil kolaborasi antara P3M dan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia. Program ini awalnya diterapkan di 10 pesantren percontohan di Pulau Jawa dengan tiga tahapan strategis. Keberhasilannya terlihat dari kemampuan pesantren mengintegrasikan nilai teologis dengan inovasi teknologi yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.

Peluncuran Dihadiri Tokoh Nasional dan Ulama

Acara peluncuran buku yang digelar di Hotel Acacia, Jakarta, pada 28–30 Oktober 2025 ini dihadiri berbagai tokoh penting, antara lain KH Yusuf Chudlori (Pengasuh Pesantren API Tegalrejo), Prof. Amin Suyitno (Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag), Lucia Karina (Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia), serta KH Miftah Faqih (Ketua PBNU). Hadir pula para pengasuh pesantren, kiai, dan ratusan santri dari berbagai daerah.

Melalui buku dan program ini, P3M berharap semangat jihad santri dapat terus berkembang menjadi gerakan nasional untuk menjaga bumi dan memperkuat peran pesantren sebagai pelopor perubahan sosial dan ekologis di Indonesia.