Pimpinan DPR Minta Komdigi-KPI Audit dan Evaluasi Izin Hak Siar Trans7 Buntut Tayangan Ponpes Lirboyo

JAKARTA - Pimpinan DPR meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mengaudit dan mengevaluasi izin hak siar stasiun televisi swasta, Trans7 buntut tayangan yang menyinggung pondok pesantren Lirboyo.  

Hal itu menjadi kesimpulan pertemuan Wakil Ketua DPR I Cucun Ahmad Syamsurijal bersama Dirjen Komunikasi Publik dan Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Direktur Utama Trans7 dan Himpunan Santri Lirboyo di gedung DPR, Kamis, 16 Oktober.

Cucun mengatakan DPR mengapresiasi langkah-langkah KPI terkait permasalahan yang terjadi pada Trans7 untuk tayangan tentang Pondok Pesantren Lirboyo dengan menjatuhkan sanksi perhentian sementara program siaran Xpose Unsencored Trans7.   

"Bahkan tadi bukan hanya pemberhentian sementara, sudah tidak ada lagi program itu," ujar Cucun. 

"Kedua, DPR RI meminta kepada Kementerian Komdigi dan Komisi Penyiaran Indonesia untuk bersama-sama melakukan audit mengevaluasi izin hak siar dari Trans7 seperti sebagaimana yang disampaikan oleh KPI," sambungnya. 

Ketiga, lanjut Cucun, DPR meminta Komdigi, KPI dan seluruh lembaga pemerintah terkait untuk hadir merespon reaksi masyarakat terhadap tayangan Trans7 dengan memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan hasil audit antara Komdigi dengan KPI. 

"Untuk itu kepada pihak KPI dan Komdigi sekaligus Trans7, itu yang tadi disampaikan oleh KPI dan juga klarifikasi sudah disampaikan oleh Trans7 termasuk tuntutan-tuntutan tadi terkait owner daripada Trans Corp-nya dan sebagainya," kata Cucun. 

Cucun menerangkan kasus tersebut menjadi satu catatan pelajaran sejarah bagi semua pihak yang hidup di republik ini agar menjunjung tinggi asas-asas dan dasar-dasar kehidupan berbangsa bernegara, saling menghargai, dan saling menghormati toleransi.  

"Kemudian juga memahami tentang kebhinekaan ruang-ruang publik yang harus menjadi catatan bagi semua baik dunia industri TV, industri radio atau siaran apapun termasuk media sosial. Ini bagian daripada pelajaran yang harus kita ambil," imbuh Cucun. 

Program Xpose Uncensored, Trans7 sebelumnya menayangkan video yang menampilkan para santri dan jemaah sedang menyalami kiai yang sedang duduk. Ada juga potong video seorang kiai yang sedang turun dari mobil.

Yang dianggap sangat tidak pantas adalah narasi suara dari video yang menyebut santri rela ngesot demi menyalami dan memberikan amplop kepada kiai. Menurut narator, kiai yang sudah kaya seharusnya yang memberikan amplop kepada santri. 

Cuplikan tayangan itu langsung mendapat reaksi keras. Para netizen pun menyerukan boikot Trans7.