Bagikan:

JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr bakal Zelenskyy bertemu Presiden AS Donald Trump pada Jumat besok. Ukraina  mendorong lebih banyak dukungan militer di saat Kyiv dan Moskow meningkatkan perang dengan serangan besar-besaran terhadap sistem energi dan NATO kesulitan merespons serentetan serangan udara.

Sejak pertemuan puncak Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Agustus gagal menghasilkan terobosan dalam upaya perdamaian AS, Kyiv menggempur kilang minyak Rusia dengan drone.

Di pihak lawan, serangan Rusia telah menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di seluruh Ukraina.

Sisi timur NATO juga berada dalam kondisi tegang setelah Polandia dan Estonia mengatakan Rusia telah melanggar wilayah udara mereka dengan pesawat nirawak (drone) dan jet tempur bulan lalu, yang memicu bantahan dari Moskow.

Insiden drone misterius lainnya telah terjadi di Jerman dan Denmark.

Seorang mantan pejabat senior Ukraina mengatakan Rusia dan Ukraina sama-sama berusaha meningkatkan tekanan dan memperbaiki posisi mereka menjelang jendela negosiasi baru.  Kedua belah pihak disebut kekurangan sumber daya untuk mempertahankan intensitas saat ini dalam jangka waktu yang lama.

"Saya pikir dua bulan (lagi) sudah cukup untuk putaran eskalasi ini," kata sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim dilansir Reuters, Kamis, 16 Oktober.

Zelenskyy diperkirakan akan mendesak Trump untuk mengirimkan rudal Tomahawk AS jarak jauh yang akan menempatkan Moskow dan kota-kota besar Rusia lainnya dalam jangkauan tembakan rudal dari Ukraina.

Trump mengatakan dia bisa memasok senjata ke Ukraina jika Putin gagal datang ke meja perundingan.

Sementara itu, Rusia berupaya menghidupkan kembali momentum hubungan AS-Rusia yang telah hilang sejak KTT Alaska dengan menggarisbawahi nilai-nilai bersama, sekaligus berjanji akan memberikan respons tegas terhadap tindakan AS apa pun yang dapat merugikannya.