JAKARTA - Paus Leo mendesak para pemimpin dunia untuk mengakhiri kelaparan dunia. Dalam pidatonya di hadapan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Paus Leo menyebut membiarkan jutaan orang tidak makan setiap hari merupakan "kegagalan etika".
Dalam kunjungannya ke kantor pusat Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di Roma, Paus Katolik tersebut juga mengutuk penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, tanpa menyebut konflik atau negara tertentu.
Leo mengutip data PBB yang menunjukkan sekitar 673 juta orang tidak makan cukup setiap hari, menyebut angka tersebut "tanda nyata dari ketidakpekaan yang merajalela, ekonomi yang tak berjiwa dan sistem distribusi sumber daya yang tidak adil dan tidak berkelanjutan".
"Di masa ketika sains telah memperpanjang harapan hidup... membiarkan jutaan manusia hidup - dan mati - dilanda kelaparan adalah kegagalan kolektif, penyimpangan etika, pelanggaran sejarah," kata Paus dilansir Reuters, Kamis, 16 Oktober.
Leo, paus AS pertama, menghabiskan sebagian besar kariernya sebelum kepausan sebagai misionaris di Peru. Leo menjadikan kepedulian terhadap kaum miskin sebagai fokus awal masa jabatannya yang berlangsung selama lima bulan.
Paus Leo berbicara di hadapan sekitar 125 delegasi yang menghadiri forum selama seminggu yang bertepatan dengan peringatan 80 tahun FAO.
Paus, yang berbicara terutama dalam bahasa Spanyol, mengatakan konflik saat ini "telah menyaksikan munculnya kembali penggunaan pangan sebagai senjata perang".
"Hukum humaniter internasional, tanpa kecuali, melarang serangan terhadap warga sipil dan barang-barang penting bagi kelangsungan hidup penduduk," ujarnya.
"Hal ini tampaknya terlupakan, karena, sungguh menyakitkan, kita menyaksikan terus berlanjutnya penggunaan strategi kejam itu," kata Paus.
"Kita tidak bisa terus seperti ini, karena kelaparan bukanlah takdir umat manusia, melainkan kehancurannya,” tuturnya.