Trauma Healing dan Edukasi Hoaks untuk Warga Poso Pasca Gempa
JAKARTA - Gempa bumi yang melanda Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pertengahan Agustus lalu masih menyisakan rasa waswas di kalangan warga. Walaupun gempa susulan kini terjadi dengan skala lebih kecil, banyak orang tetap merasakan trauma, terlebih karena pengalaman mengungsi dan ketidakpastian kondisi.
Direktur Dukungan Infrastruktur Darurat BNPB, Andria Yusferryzal, menekankan pentingnya pemulihan psikologis bagi masyarakat terdampak.
“Trauma ini harus ditangani, karena ketika belum pulih sudah muncul lagi gempa baru,” ujarnya dalam diskusi daring Teropong Bencana, seperti dikutip ANTARA.
Di lapangan, salah satu tantangan terbesar bukan hanya gempa itu sendiri, melainkan maraknya informasi yang tidak benar di media sosial. Mulai dari isu soal gelombang besar hingga prediksi gempa susulan yang menakutkan.
“Kami mengonternya dengan mengedukasi masyarakat, dalam hal ini dipimpin langsung oleh kepala pusat data BNPB (Abdul Muhari) agar hanya mempercayai informasi kredibel dari pemerintah dan lembaga resmi negara,” kata Andria.
Baca juga:
Untuk mengatasi hal tersebut, BNPB bekerja sama dengan Dinas Kominfo Poso dan Sulawesi Tengah. Mereka membuat materi edukasi publik tentang langkah yang tepat saat terjadi gempa, serta membandingkannya dengan pengalaman di daerah maupun negara lain. BMKG pun rutin mengeluarkan siaran pers resmi yang disebarkan secara lokal agar warga merasa tenang sekaligus terhindar dari hoaks.
Selain lewat media, edukasi juga diberikan langsung di posko pengungsian dan balai desa melalui pertemuan dengan warga. “Imbauan kami, berita-berita yang diterima masyarakat harus diverifikasi ke pihak berkompeten. Secara psikologis, itu yang sekarang paling penting dilakukan,” tambah Andria.
Sementara trauma healing berjalan, BNPB bersama tim terkait juga menangani kebutuhan dasar masyarakat serta pemulihan fasilitas umum. Menurut data BPBD, sedikitnya 433 orang terdampak gempa, termasuk lansia, balita, dan penyandang disabilitas. Desa Tangkura menjadi wilayah yang paling parah, dengan puluhan rumah rusak berat hingga fasilitas ibadah dan sekolah yang ikut terdampak.