Menlu RI: Kemitraan ASEAN-China harus Kuat Secara Ekonomi dan Mampu Menghadapi Tantang Geopolitik

JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan kemitraan ASEAN dengan China harus mampu menghadapi tantangan geopoltik, selain kuat secara ekonomi.

Berbicara dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN–RRT di sela-sela rangkaian ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/Post-Ministerial Conference (AMM/PMC) ke-58 di Kuala Lumpur, Malaysia Hari Kamis, Menlu Sugiono menegaskan pentingnya memperkuat kemitraan strategis komprehensif antara ASEAN dengan China.

"Hubungan ASEAN–RRT termasuk yang paling dinamis dan berdampak besar di kawasan. Kita harus memastikan bahwa kemitraan ini tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu menghadapi tantangan geopolitik," ujar Menlu Sugiono, Kamis 10 Juli.

"Penandatanganan perjanjian ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 tahun ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan ekonomi kawasan yang lebih terbuka dan terintegrasi," lanjut Menlu Sugiono.

Lebih jauh Menlu RI mendorong pemajuan ekonomi tersebut di berbagai sektor prioritas seperti ekonomi digital, transisi energi bersih, ketahanan pangan, dan pembangunan infrastruktur.

"Saatnya menindaklanjuti kesepakatan para pemimpin kita dengan langkah-langkah nyata," tegasnya.

Di samping itu, Indonesia menyambut baik inisiatif "Visa ASEAN" China untuk mempermudah perjalanan pelaku bisnis dari negara-negara ASEAN dan Timor-Leste serta mengapresiasi penyelenggaraan KTT ASEAN–GCC (Gulf Cooperation Council)–China pada Mei lalu sebagai langkah strategis pemajuan ekonomi kawasan.

 

Negeri Tirai Bambu sendiri merupakan mitra dagang terbesar ASEAN selama lebih dari 16 tahun berturut-turut sejak 2009. Sebaliknya dalam enam tahun terakhir, ASEAN juga menjadi mitra dagang terbesar bagi China.

Menlu RI menekankan, hanya dengan kemitraan yang setara, ASEAN dan China dapat mewujudkan kerja sama yang saling menguntungkan untuk kawasan yang damai, stabil dan sejahtera.

Diketahui, Pertemuan PMC ASEAN dengan RRT, sebagai salah satu Mitra Dialog, rutin dilakukan setiap tahun. Pada gelaran tahun ini, Menlu China Wang Yi turut hadir dalam pertemuan.