JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengharapkan kerangka kerja sama ASEAN Plus Three (APT) menjadi kekuatan positif untuk ketahanan pangan dan stabilitas.
Menlu Sugiono mengatakan, APT penting sebagai jangkar ketahanan kawasan dalam menghadapi krisis multidimensional.
Berbicara dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN Plus Three yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia Hari Kamis, Menlu Sugiono mengenang APT yang dibentuk pada masa krisis moneter Asia tahun 1997, serta memainkan peran penting dalam meredam dampak krisis keuangan global tahun 2008.
Saat ini, lanjut Menlu RI, kerja sama APT kembali diuji oleh tekanan eonomi global dan rivalitas geopolitik yang semakin tajam.
"Jika kita mampu mempertahankan semangat solidaritas dan tekad bersama, maka kita juga dapat menghadapi tantangan era ini dengan ketangguhan yang sama," ujar Menlu Sugiono, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Jumat 11 Juli.
Lebih jauh Menlu Sugiono mengatakan, ketahanan pangan harus menjadi inti dari kerja sama APT.
Meskipun kawasan memiliki basis pertanian yang kuat, Menlu Sugiono menyoroti kerentanan sistem pangan akibat guncangan iklim, gangguan rantai pasok dan ketimpangan struktural, sebagaimana laporan terbaru Hunger Hotspots oleh FAO dan WFP.
Dampaknya, harga pangan yang terus meningkat telah menyebabkan daya beli rumah tangga menurun, terutama kelompok rentan.
"Saatnya kita mengangkat APT Emergency Rice Reserve menjadi platform yang lebih strategis, bukan sekadar untuk distribusi pangan dalam keadaan darurat, tapi juga untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan koordinasi rantai pasok yang lebih baik," seru Menlu Sugiono.
Menlu RI mengatakan, Indonesia juga mendorong penguatan ASEAN Food Security Information System
(AFSIS) serta keterlibatan sektor swasta dalam meningkatkan ketahanan pangan kawasan melalui skema kemitraan publik-swasta.
Selain isu pangan, Menlu Sugiono menekankan APT harus terus menjadi jangkar bagi perdamaian dan stabilitas kawasan. Ia mengingatkan, stabilitas tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan oleh seluruh negara yang memiliki kepentingan besar terhadap masa depan kawasan.
"Kita semua harus menjadi kekuatan positif. Dan hukum internasional harus selalu dihormati," tegas Menlu Sugiono.
Dalam kesempatan ini, Menlu RI menyerukan paradigma kolaborasi yang dilandasi rasa saling percaya, saling menghormati dan tanggung jawab bersama.
Dalam konteks ini, Indonesia menyambut baik komitmen negara-negara Plus Three terhadap mekanisme ASEAN dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
APT harus dilihat bukan hanya sebagai forum yang hanya merespons krisis, tetapi juga sebagai platform jangka panjang untuk membangun ketahanan dan perdamaian kawasan yang inklusif, kata Menlu Sugiono menutup pernyataannya.
BACA JUGA:
Diketahui, ASEAN Plus Three (APT) adalah kerangka kerja sama regional yang melibatkan 10 negara ASEAN bersama China, Jepang dan Korea Selatan yang dibentuk untuk memperkuat integrasi Asia Timur.
APT bertujuan mendorong stabilitas, kemakmuran dan ketahanan regional melalui kerja sama di bidang ekonomi, keuangan, ketahanan pangan, pendidikan, penanggulangan bencana dan kesehatan.
Contoh konkret kerja sama APT yakni inisiatif penting seperti Chiang Mai Initiative dan cadangan beras darurat APTERR