Sejarah Satelit Palapa Indonesia yang Diperingati 9 Juli

YOGYAKARTA – Presiden Soeharto tidak bisa dikesampingkan dari sejarah Satelit Palapa. Menariknya, nama “Palapa” dipilih oleh Soeharto sendiri sebagai pengingat janji Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Lalu bagaimana asal mula peluncuran Satelit Palapa?

Sejarah Satelit Palapa A1

Satelit Palapa adalah teknologi stasiun radio di luar angkasa yang berfungsi untuk menerima, memproses, kemudian memancarkan lagi sinyal komunikasi radio.

Dilansir dari Antara, kala itu Presiden Soeharto ingin meningkatkan komunikasi Indonesia yang dikenal punya wilayah yang luas dengan ribuan pulau. Menurutnya, kecepatan komunikasi adalah hal yang mutlak dimiliki oleh Indonesia. Dengan begitu kedudukan Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain.

Untuk mewujudkan ambisinya, Soeharto kemudian menugaskan Mayjen TNI Soehardjono (Dirjen Pos dan Telekomunikasi) dan Ir. Sutanggar Tengker Yahya (Direktur Telekomunikasi di Ditjen Pos dan Telekomunikasi) agar segera merealisasikan kepemilikan satelit komunikasi.

Ide pembuatan satelit akhirnya mulai terealisasikan. Kala itu rancangan satelit diserahkan kepada perusahaan dari Amerika Serikat, Hughes Aircraft Company. Perusahaan tersebut membangun satelit Palapa dengan teknologi yang diadopsi dari satelit Anik (Kanada) dan Westar (Amerika Serikat). Satelit tersebut kemudian dinamai dengan Satelit Palapa A1.

Peluncuran Palapa A1 dilakukan dengan bantuan roket Delta 2914 dari Cape Kennedy pada 9 Juli 1976. Sejak saat itulah tanggal 9 Juli diperingati sebagai Hari Satelit Palapa

Satelit Palapa A 1 kala itu memiliki 12 transponder serta memiliki kapasitas sebanyak 6.000 sirkuit suara atau 12 saluran televisi warna.  Ukuran satelit A1 cukup besar dengan tinggi tinggi 3,41 meter, diameter 1,9 meter, dan berat 574 kg dan memiliki masa aktif selama tujuh tahun. Pengendalian Palapa A1 juga diberikan kepada Indonesia melalui Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang kini berganti nama jadi PT Telkom Indonesia.

Peluncuran Satelit Palapa Lainnya

Satelit komunikasi memang memiliki jangka waktu yang terbatas. Oleh karena itu Indonesia terus meluncurkan satelit komunikasi lainnya pasca Palapa A1. Berikut ini perjalanan satelit Indonesia setelah Palapa A1, dilansir dari website resmi Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi.

  • Satelit Palapa A2

Palapa A2 adalah satelit cadangan Palapa A1 saat mengalami masalah. Satelit ini juga diluncurkan dengan roket Delta 2914 pada Maret 1977.

  • Satelit Palapa B-1

Pemerintah Indonesia kemudian meluncurkan Palapa B-1 pada 18 Juni 1983 tepat setelah masa Palapa A1 habis. Pembuatan satelit ini masih menggandeng perusahaan yang sama. Satelit ini diluncurkan untuk mengakomodir kebutuhan negara ASEAN.

  • Satelit Palapa B-2 (1984-gagal)

Satelit ketiga yakni B2 sempat akan diluncurkan pada 3 Februari 1984. Sayangnya peluncuran satelit ini gagal. Pemerintah kemudian meluncurkan satelit B2P untuk menggantikan Palapa A1 dan A2.

  • Satelit Palapa B2P

Pemerintah merencanakan peluncuran Palapa B2P pada 20 Maret 1986 untuk menggantikan A1 dan A2. Sayangnya peluncuran mundur menjadi tahun 1987.

  • Satelit Palapa B2R

Peluncuran Palapa kembali dilakukan terhadap B2R. Satelit ini diluncurkan pada 13 April 1990 menggunakan roket Delta 6925.

  • Satelit Palapa B4

Pada 14 Mei 1992, Indonesia meluncurkan Satelit Palapa B4. Satelit ini mengorbit selama 4 hari untuk menguji alat dan komunikasi.

  • Satelit Palapa C1 dan C2

Ambisi Indonesia untuk mempercepat komunikasi makin besar. Terbukti dengan peluncuran Palapa C1 dan C2 yang digunakan untuk memperluas komunikasi dengan negara-negara Asia Tenggara seperti China, India, Jepang dan Australia yang dioperasikan oleh Indosat.

  • Satelit Palapa D

Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space yang berbasis di Prancis. Satelit ini mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia, Asia, dan Asia Tenggara.

Itulah informasi terkait sejarah Satelit Palapa. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.