Kasus COVID-19 Meningkat di Singapura dan Hong Kong, Bagaimana Indonesia?
JAKARTA - Meski tren global COVID-19 menunjukkan penurunan sejak Oktober 2024, situasi di beberapa negara seperti Hong Kong dan Singapura kembali mengkhawatirkan. Kedua negara ini mencatat lonjakan kasus tertinggi dalam kurun waktu 52 minggu terakhir. Peningkatan ini menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan terhadap patogen pernapasan yang bisa menyebar cepat dan diam-diam.
Anggota Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr. Erlina Burhan menyebut Data Centre for Health Protection Hong Kong pada minggu ke-19 tahun 2025 (4–10 Mei) menunjukkan laju temuan positif COVID-19 tertinggi dalam setahun terakhir, dengan 1.042 kasus baru, naik dari 972 di minggu sebelumnya. Selama empat hari pertama minggu ke-20, jumlah kasus harian berkisar antara 114 hingga 149.
Dalam empat minggu terakhir, tercatat 81 kasus COVID-19 berat dan 30 kematian. Analisis genetik dari surveilans limbah menunjukkan semua 36 spesimen yang diperiksa berasal dari varian JN.1 dan turunannya, dengan dominasi varian XDV (76,5%) dan KP.3 (23%). Namun, otoritas kesehatan menegaskan belum ada indikasi varian-varian ini menyebabkan gejala yang lebih berat.
Singapura menghadapi peningkatan kasus yang signifikan pada minggu ke-18 (27 April–3 Mei 2025), dengan 14.200 kasus baru, naik tajam dari 11.100 pada minggu sebelumnya. Rata-rata rawat inap harian pun meningkat dari 102 menjadi 133 pasien per hari. Pemerintah Singapura mengidentifikasi dua varian dominan, yakni LF.7 dan NB.1.8 yang
"Lonjakan ini dipicu oleh melemahnya kekebalan populasi akibat mutasi varian baru, walau gejala yang ditimbulkan masih cenderung ringan dan mirip dengan subvarian Omicron, yakni demam, batuk, hidung berair, sakit tenggorokan, mata merah, muntah, dan brain fog," ujar dr. Erlina, dari keterangan resmi.
Laporan WHO per 27 April 2025 mencatat 25.500 kasus baru COVID-19 dalam 28 hari terakhir secara global, dengan Brasil mencatat kasus terbanyak (7 ribu kasus) dan Amerika Serikat mencatat kematian tertinggi (kurang lebih 1.200 kematian). Tren global memang menurun, tetapi masih ada 282 kematian dalam kurun tiga minggu terakhir, terutama di Inggris, Brasil, dan Yunani.
Varian JN.1 masih diklasifikasikan sebagai variant of interest (VOI), sementara varian lain seperti KP.2, KP.3, dan LB.1 masuk dalam daftar variant under monitoring (VUM).
Bagaimana dengan Indonesia?
Hingga minggu ke-19 tahun 2025, Indonesia mencatat total 6.830.545 kasus konfirmasi COVID-19 sejak 2020, dengan 162.066 kematian (case fatality rate 2,37%). dr. Erlina mengatakan sejak awal 2025 hingga 10 Mei, hanya 151 kasus baru yang tercatat, tanpa kematian. Meski tren harian menurun sejak awal tahun, terdapat lonjakan kembali pada Mei.
Baca juga:
- COVID-19 Meningkat di Negara Tetangga, Kemenkes Belum Ambil Langkah Pengetatan
- Kasus COVID-19 Merebak Lagi di Luar Negeri, Kemenkes: Indonesia Tetap Aman
- Kasus COVID-19 di Singapura Meningkat, Ini Gejala yang Dikeluhkan dan Penyebabnya
- Fendy Chow dan Istri Ungkap Alasan Pilih Terbang dengan Pesawat Berbeda demi Anak
Mengingat masa inkubasi virus pernapasan yang singkat dan risiko penyebaran oleh individu tanpa gejala, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. WHO dan CDC juga merekomendasikan pembaruan vaksin COVID-19 dengan formulasi JN.1. CDC merekomendasikan booster untuk orang usia 65 tahun ke atas dan mereka yang memiliki kondisi imunokompromais berat.
Rekomendasi yang dilakukan masyarakat Indonesia yang menghadapi kembalinya wabah COVID-19 di negara tetangga:
1. Waspada, tapi tidak panik.
2. Ikuti perkembangan informasi dari sumber terpercaya.
3. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk CTPS.
4. Gunakan masker jika sakit atau berada di keramaian.
5. Terapkan etika batuk dan bersin.
6. Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika bergejala.
7. Hindari keramaian, terutama menjelang libur panjang seperti Idul Adha.
8. Lakukan vaksinasi booster, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.
Tenaga kesehatan diharapkan aktif memperkuat kesiapan sistem, termasuk:
- Evaluasi rutin protokol infeksi dan pelatihan tenaga medis.
- Pembaruan SOP secara real-time.
- Kolaborasi dengan rumah sakit swasta dan penyedia logistik.
- Penyediaan tes point-of-care sebagai bagian dari surveilans. Surveilans adalah praktik epidemiologi yang memantau penyebaran penyakit.
Upaya ini penting agar kita tak hanya merespons pandemi COVID-19, tetapi juga siap menghadapinya.