Soal Sengkarut Royalti Musik, Iga Massardi: Masalah Pribadi Jangan Mengganggu Ekosistem

JAKARTA - Iga Massardi yang tergabung dalam asosiasi penyanyi yang menamakan diri Vibrasi Suara Indonesia (VISI), ikut menyuarakan pendapatnya terkait sengkarut royalti performing rights yang terjadi di ranah musik Indonesia belakangan ini.

Pentolan Barasuara itu mengatakan, perbedaan cara pandang terhadap Undang-Undang No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UUHC) di kalangan musisi sebagai suatu kewajaran. Namun, ia tidak menerima jika satu pihak memaksakan kehendaknya itu untuk diterapkan hanya kepada kelompoknya sendiri.

“Saya pribadi, melihat ini sebagai perbedaan pendapat yang sebetulnya bisa dimusyawarahkan. Tapi yang perlu digarisbawahi di sini, hukum yang berdasarkan Undang-Undang dan peraturan itu harus berlaku secara egaliter dan tidak elitis hanya untuk sebagian orang saja,” kata Iga dalam jumpa pers VISI di SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 19 Maret.

Terlebih, Iga menentang keras jika permasalahan yang basisnya sangat personal – lalu diangkat ke publik – dan menjadikan ekosistem musik terganggu.

“Yang perlu dicermati di sini, jangan sampai personal issues (masalah pribadi) itu mengganggu ekosistem, yang mana personal issues itu diberlakukan ke semua orang,” katanya. “Dan itu adalah hal yang sebetulnya bukan kita sanggah, tapi perlu kita musyawarahkan.”

Iga juga menyampaikan pentingnya para musisi urun rembuk demi mencari solusi terbaik bagi semua pihak yang ada di ekosistem musik.

“Karena ini akan menyangkut seluruh ekosistem musik Indonesia, berlaku untuk penyanyi dan berlaku untuk pencipta lain, dan juga penyelenggara. Itu yang mungkin bisa kita rumuskan bersama dengan sebanyak mungkin pihak,” tutur Iga.

“Dan kita dari VISI tidak pernah ada masalah untuk bicara satu sama lain dengan baik dan kondusif. Jadi, mengenai apa yang akan kami sampaikan di sini, sebetulnya visi dari VISI ini untuk menjadikan kondisi yang kondusif dan damai,” pungkasnya.