Europol Peringatkan Ancaman Kejahatan Berbasis AI yang Kian Meningkat

JAKARTA – Europol memperingatkan bahwa kelompok kejahatan terorganisir semakin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan penipuan dan sistem pembayaran ilegal. Hal itu memungkinkan mereka untuk memperluas operasi secara global dengan lebih cepat dan biaya lebih murah, serta membuat mereka semakin sulit dideteksi.

Dalam laporan European Serious Organised Crime Threat Assessment, yang dirilis Selasa 18 Maret, badan penegak hukum Uni Eropa itu menyebutkan bahwa teknologi AI memungkinkan pelaku kejahatan menciptakan pesan dalam berbagai bahasa serta meniru individu secara realistis  untuk melakukan pemerasan dalam operasi penipuan siber berskala global.

Selain itu, Europol juga mengungkapkan bahwa AI generatif telah digunakan untuk memproduksi materi eksploitasi seksual anak. Ini juga telah menjadi perhatian serius dalam upaya pemberantasan kejahatan siber.

"DNA kejahatan terorganisir sedang berubah. Jaringan kriminal telah berevolusi menjadi perusahaan kriminal global berbasis teknologi, yang mengeksploitasi platform digital, aliran keuangan ilegal, serta ketidakstabilan geopolitik untuk memperluas pengaruh mereka," ujar Direktur Eksekutif Europol, Catherine De Bolle.

Laporan tersebut menyoroti bahwa setiap aspek dari kejahatan modern kini semakin bergeser ke ranah digital, termasuk perekrutan anggota, komunikasi, hingga sistem pembayaran.

"Kualitas AI yang membuatnya revolusioner—aksesibilitas, adaptabilitas, dan kecanggihannya—juga menjadikannya alat yang sangat kuat bagi jaringan kriminal," kata Europol.

Menurut laporan tersebut, munculnya AI otonom sepenuhnya, di mana sistem dapat merencanakan dan melaksanakan tugas tanpa campur tangan manusia. Hal ini berpotensi menciptakan jaringan kejahatan yang sepenuhnya dikendalikan oleh AI, yang akan menandai era baru dalam kejahatan terorganisir.

Pada Februari 2025, Europol mengumumkan penangkapan dua lusin orang yang terlibat dalam penyebaran gambar eksploitasi anak hasil AI generatif. Operasi ini menjadi salah satu yang pertama dalam memberantas kejahatan berbasis AI, meskipun Europol menyoroti masih adanya kekurangan regulasi nasional terkait penggunaan teknologi AI untuk tujuan kriminal semacam ini.

Selain itu, pada Desember 2024, Europol berhasil menutup layanan pesan terenkripsi MATRIX, yang sebelumnya digunakan untuk perdagangan narkoba dan senjata lintas negara.

Dalam laporan terbaru, Europol juga mencatat bahwa serangan siber, penyelundupan migran, perdagangan narkoba dan senjata, serta penyalahgunaan dalam pengelolaan limbah termasuk dalam ancaman kriminal yang berkembang pesat di Eropa.